budaya komunikasi masyarakat madura

 

BAB I

PENDAHULUAN

                                

A.     Latar Belakang Masalah

Manusia adalah makhluk individu sekaligus makhluk sosial, manusia senantiasa berhubungan dengan manusia lainnya, ingin mengetahui lingkungan sekitarnya, bahkan ingin mengetahui apa yang terjadi dalam dirinya, karena setiap orang yang hidup dalam masyarakat sejak ia bangun tidur hingga ia tidur kembali. Secara kodrati senantiasa terlibat dalam komunikasi, terjadinya komunikasi adalah sebagai konsekwensi hubungan sosial (social relations) masyarakat, paling sedikit dua orang yang saling berhubungan satu sama lainnya yang menimbulkan sebuah interaksi sosial (social interaction), terjadinya interaksi sosial disebabkan interkomunikasi.[1]

Komunikasi sangat penting perananya bagi kehidupan sosial, tradisi, politik dan pendidikan, karena komunikasi merupakan proses dinamika transaksional yang mempengaruhi perilaku, yang mana sumber dan penerimaannya sengaja menyandi (to code) perilaku mereka untuk menghasilkan pesan yang mereka salurkan melalui suatu saluran (Channel) guna merangsang atau memperoleh sikap atau perilaku tertentu sebagai konsekwensi dari hubungan sosial[2]

1

Tampaknya tak dapat dihindari bahwa proses komuniaksi ini sangat fital dan mendasar bagi komunikasi sosial, dikatakan vital karena setiap individu memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan individu yang lainnya. Dengan begitu menetapkan kredibilitasnya sebagai seorang anggota masyarakat dan dikatakan mendasar karena manusia baik yang primitif maupun yang modern berkeinginan mempertahankan suatu persetujuan mengenai berbagai hal aturan sosial komunikasi.

Oleh karena itu yang harus ditekankan adalah bagaimana komunikasi bisa berjalan efektif dan efisien sehingga pesan yang diterima, ditafsirkan sama antara komunikator dan komunikan. Artinya komunikasi yang efektif, terjadi tidak hanya sekedar saat seseorang telah melekatkan arti tertentu terhadap perilaku orang lain tetapi juga pada persepsinya yang sesuai dengan pemberi pesan atau informasi.

Salah satu cara untuk menjamin hal itu adalah dengan menghindarkan pesan yang tidak jelas atau tidak spesifik serta dengan meningkatkan frekuensi umpan balik (feed back) guna mengurangi tingkat ketidakpastian dan tanda tanya, yakni dengan cara memahami bagaimana tradisi komunikasi dari lawan bicara kita nantinya, sehingga salah tafsir dari penyampian pesan dapat dihindarkan meskipun mempunyai latar belakang kehidupan yang hampir sama dengan kita.

Bertahun-tahun lalu Raymond Williams (1962) secara ringkas dan tegas mendefinisikan tradisi sebagai “suatu cara hidup tertentu” yang dibentuk oleh nilai, tradisi, kepercayaan, obyek material dan wilayah (territory).[3] Tradisi adalah suatu ekologi yang kompleks dan dinamis dari orang, benda, pandangan tyentang dunia, kegiatan dan latar belakang (setting) yang secara fundamental bertahan lama tetapi juga berubah dalam komunikasi dan interaksi sosial yang rutin, tradisi adalah konteks.

Tradisi adalah cara kita berbicara dan berpakaian, makanan yang kita makan dan cara kita menyiapkannya dan mengkonsumsikannya. Dewa-dewa yang kita ciptakan dan cara kita memujanya, cara kita membagi waktu dan ruang, cara kita menari, nilai-nilai yang kita sosialisasikan kepada anak-anak kita dan semua detail lainnya yang membentuk kehidupan sehari-hari.

Perspektif tentang tradisi ini mengimplikasikan bahwa tak ada tradisi yang secara inheren lebih unggul dari tradisi yang lainnya dan bahwa kekayaan tradisi tidak ada kaitannya sama sekali dengan status ekonomi, tradisi sebagai kehidupan sehari-hari merupakan idea yang tetap demokratis.[4]

Hal inilah yang memotivasi peneliti untuk mengkaji bagaimana cara atau praktek komuniksi mahasiswa Madura khususnya di Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya dari segi bahasa, baik bahasa Verbal maupun Nonverbal yang biasanya dilakukan secara komunikator dan komunikan yang berlatar ketradisian sama. namun berbeda dengan mahsiswa lain pada umumnya.

Namun sebelum membahas tentang tradisi komunikasi mahasiswa Madura di Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya, maka perlu kita pahami, bahwa Fakultas Dakwah adalah salah satu Fakultas di IAIN Sunan Ampel Surabaya yang  merupakan institusi pendidikan yang berada dibawa naungan  Departemen Agama, yang berlokasi di jalan Ahmad Yani 117 Surabaya. Fakultas Dakwah terkenal Lebih mengarah pada pendidikan sosialnya ini terlihat dengan adanya jurusan-jurusan seperti; komunikasi penyiaran Islam (KPI), pengembangan masyarakat Islam (PMI), Bimbingan masyarakat Islam (BPI), Managemen Dakwah (MD),Program studi ilmu komuniaksi, program studi ilmu sisiologi, program studi ilmu psikologi. Semua jurusan yang ada di Fakultas Dakwah banyak mengajarkan tentang ilmu-ilmu sosial.

Mahasiswa Madura memiliki kekayaan tradisi yang masih dipegang secara kuat. Keunikan dan kekhasan bahasa yang digunanakan dalam berinteraksi dengan orang lain membuat mereka menjadi pusat perhatian . Itulah sebabnya, mahasiswa Madura memepunyai komunitas di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Dan tidak jarang banyak mahasiswa dari daerah lain menirukan gaya bahasa yang digunakan mahasiswa Madura,yang kemudian mereka dapat berbaur bersama komunitas Madura. Hal ini terjadi karena banyak sekali mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya berasal dari Madura. Sehingga tradisi komunikasi Madura banyak mempengaruhi komunikasi mahasiswa lainnya. Ini terlihat ketika banyak mahasiswa lain menirukan bahasa Madura.

Maka perlu kita pahami terlebih dahulu perspektif komunikasi dipandang dari segi tradisi, komunikasi dipandang sebagai unsur penting dalam memahami suatu tradisi, tradisi dan komunikasi tidak dapat dipisahkan, oleh karena tradisi tidak hanya menentukan siapa bicara dengan siapa, tentang apa dan bagaimana komunikasi berlangsung. Tetapi tradisi juga turut menentukan bagaimana orang menjadi penyandi pesan, makna yang ia miliki untuk sebuah pesan dan kondisi-kondisinya untuk mengirim, memperhatikan dan menafsirkan pesan. Sebenarnya seluruh perbendaharaan perilaku kita sangat tergantung pada tradisi di mana tempat kita dibesarkan. Konsekwensinya, tradisi merupakan landasan komunikasi, bila tradisi beraneka ragam, maka beraneka ragam pula praktek-praktek komunikasi.

Masyarakat Madura, dalam hal ini mahasiswa Madura Dalam berkomunikasi sangat dipengaruhi oleh tradisi mereka yang sangat khas, mulai dari logat bahasa, cara mereka bertutur kata, menyampaikan pesan mereka yang ada dalam pikiran mereka sampai pada pengungkapan atau pengekspresian perasaan mereka. Seringkali mahasiswa Madura dalam pengungkapan perasaan dan pola pikir mereka akan suatu hal cenderung tidak pakai basa basi, langsung pada pembicaraan utama, hal ini dikarenakan mahasiswa Madura lebih menghargai waktu daripada kemasan pesan yang akan disampaikan. Masyarakat Madura, dalam hal ini mahasiswa Madura, tidak perlu merangkai kata-kata yang indah, yang enak di dengar, mereka lebih mengutamakan inti pesan, agar pesan tersebut bisa dengan mudah dipahami oleh lawan bicaranya. Komunikasi masyarakat maduara terlihat sangat emosional dengan nada yang agak keras, meskipun pesan yang disampaikan mempunyai makna atau arti yang biasa (tidak marah), dan itu merupakan kebiasaan masyarakat Madura dalam berinteraksi dengan sesama maupun dengan orang di luar komunitas Madura. itu sudah menjadi cirri khas orang Madura sehingga orang yang diajak bicara harus paham makna pesan yang disampaikan agar tidak terrjadi kesalahpahaman.

Dalam perspektif demikian, maka simbol-simbol komunikasi yang terdapat dalam mahasiswa Madura terlihat dari cara mereka merepresentasikan diri dalam proses-proses komunikasi sehari-hari. Sebagaimana disebutkan diatas, mahasiswa Madura mempunyai kesan keras, bersahaja serta kelihatan berwibawa. Kesan tersebut tampak mengemuka ketika mahasiswa  Madura memberikan simbol-simbol tertentu untuk mengkomunikasikan diri. Contohnya dalam mengkomunikasikan kemarahannya. manusia  berkata-kata keras, menantang, atau mungkin lebih bersikap emosional. Kondisi ini sama  dengan apa yang dilakukan oleh Mahasiswa Madura ketika mereka sedang marah, tanpa mengeluarkan kata-kata raup wajahnya kelihatan memerah saat mereka marah, ini merupakan wujud kemarahannya. 

 

B.     RUMUSAN MASALAH

Dari latar belakang masalah tersebut di atas, maka penelitian ini berusaha menjawab permasalahan sebagai berikut:

  1. Bagaimana tradisi komunikasi mahasiswa Madura di Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya dari segi penggunaan bahasa?
  2. Simbol-simbol komunikasi apakah yang digunakan mahasiswa Madura, di Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya dalam proses komunikasi?

 

C.     TUJUAN PENELITIAN

Bertitik tolak pada rumusan masalah di atas, maka maksud dan tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk memahami Tradisi Komunikasi Mahasiswa Madura khususnya di Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya dari segi penggunaan bahasa.
  2. Untuk memahami simbol-simbol komunikasi yang digunakan mahasiswa Madura khususnya di Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya  dalam proses komunikasi yang biasa mereka gunakan sehari-hari

 

D.    MANFAAT PENELITIAN

Adapun kegunaan dari peneletian ini diharapkan berdaya guna sebagai berikut:

a.      Secara Teoritis

1.      Hasil peneletian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan terhadap pengembangan ilmu komunikasi, khususnya komunikasi antar budaya.

2.      Diharapkan dapat memperkaya kajian tradisi khususnya dalam mahasiswa Madura.

b.      Secara Praktis

1.      Hasil peneletian ini diharapkan dapat dijadikan salah-satu informasi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, khususnya tradisi komunikasi yang ada hubunganya dengan program study ilmu komunikasi.

2.      Untuk membantu masyarakat demi menghindari kesalahpahaman persepsi dari sebuah pesan yang disampaikan komunikan yang berbeda tradisi atau bahkan sama dengan kita.

 

 

 

 

E.     KONSEPTUALISASI

Konsep adalah unsur pokok dari penelitian.[5] kalau masalahnya dan kerangka teoritisnya susah jelas, biasanya sudah diketahui pula fakta mengenai gejala-gejala yang menjadi pokok-pokok penelitian  dan suatu konsep sebenarnya adalah definisi secara singkat dari sekelompok fakta atau gejala itu.

Sehubungan dengan hal diatas , maka dalam pembahasan perlulah kiranya peneliti membatasi dari sejumlah konsep yang diajukan  dalam penelitian dalan judul- skipsi ini Tradisi Komunikasi Mahasiswa Madura (Studi deskriptif di Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Sursbaya) adalah yang mempunyai konsep-konsep antara lain.

a.      Tradisi Komunikasi

Tradisi komunikasi merupakan dua konsep yang tidak dapat dipisahkan. Pusat perhatian tradisi dan komunikasi terletak pada variasi langkah dan cara manusia berkomunikasi melintasi komunitas manusia atau kelompok sosial. pelintasan komunikasi ini menggunakan kode-kode pesan, baik secara verbal maupun non verbal, yang secara ilmiah selalu digunakan dalam konteks interaksi. Dalam hal ini juga meliputi bagaimana menjajaki makna, pola-pola tindakan bagaimana serta pola-pola itu di artikulasikan dalam sebuah kelompok sosial, kelompok tradisi, kelompok politik, proses pendidikan bahkan lingkungan teknologi yang melibatkan interaksi antar manusia.

Tradisi komunikasi terbentuk dalam proses-proses interaksi dalam lingkungan sosial tertentu, utamanya yang memiliki kesamaan bahasa, etnisitas dan tradisi. Tradisi komunikasi dalam penelitian ini lebih dikontekskan pada pola interaksi yang terjadi dalam mahasiswa Madura, yang meliputi mahasiswa Madura dengan mahasiswa Madura. Pola komunikasi dalam mahasiswa Madura tersebut yang terjadi secara terus-menerus akhirya menjadi tradisi komunikasi yang khas Madura, baik dalam pemaknaanya, pola-pola tindakan dan penggunaan bahasa verbal dan non verbal dalam proses interaksi.

b.      Mahasiswa Madura

Mahasiswa Madura di sini adalah mahasiwa yang berasal dari Madura, yang menempuh pendidikan di Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya. Dimana mereka mempunyai kekhasan tersendiri dalam menggunakan bahasa (baik dialek maupun logatnya) melalui penggunaan simbol-simbol  dalam berinteraksi dengan mahasiswa Madura lainnya.

Komunitas mahasiswa mahasiswa Madura yang ada di Fakultas Dakwah yang bergabung dalam organisasi daerah seperti IKMAS (ikatan Mahasiswa Sumenep), IKAMABA (Ikatan Mahassiwa Bangkalan), dan eLMEN’S (Lingkar Mahasiswa Pamekasan Surabaya). Dengan organ-organ inilah komunitas mahasiswa Madura melakukan interaksi secara formalitas. Tapi rasa persaudaraan dan penghormatan di antara mereka tidak pernah hilang. Selain itu mereka yang tergabung dalam organisasi-organisasi intra dan ekstra kampus.

 

 

 

 

F.      SISTEMATIKA PEMBAHASAN

Dalam membahasa suatu penelitian diperlukan sistematika pembahasan yang bertujuan untuk memudahkan peneliutian, langkah-langkah pembahsan sebagai berikut:

BAB I          :    yaitu pendahuluan, pada bab ini terdiri atas enam sub bab antar lain  latar belakang masalah, rumusan masalah, maksud dan tujuan penelitian, manfaat penelitian, konseptualisasi, dan sistematika pembahasan.

BAB II        :    yaitu kajian pembahasan,pada bab ini terdiri dari dua sub bab,sub bab pertama yaitu pembahasan teori dan sub bab kedua yakni hasil penelitian yang relevan.

BAB III       :    yaitu metode penelitian pada bab ini terdiri dari enam sub bab yaitu pendekatan dan jenis penelitian, jenis dan sumber data, tahap–tahap penelitian, tehnik pengumpulan data, tehnik analisis data dan tehnik keabsahan data.

BAB IV       :    yaitu penyajian data, yang terdiri dari dua sub bab yakni yang pertama deskripsi umum obyek penelitian dan sub bab kedua deskripsi hasil penelitian.

BAB V        :    yaitu Analisis data dari dua sub bab, yang pertama sub bab yang mengupas tentang temuan dan sub bab kedua berisi tentang konfirmasi temuan dengan teori.

BAB VI       :    yaitu penutup yang terdiri dari kesimpulan yang ditutup dengan saran.


 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

A.     BUDAYA

1.      Konsep Dasar  Budaya

Raymond Williams (1962) secara ringkas dan tegas mendefinisikan Budaya sebagai” suatu cara hidup tertentu” yang dibentuk oleh nilai, tradisi, kepercayaan, obyek material dan wilayah (territory),[6] Budaya adalah suatu ekologi yang kompleks dan dinamis dari orang, benda, pandangan tentang dunia, kegiatan dan latar belakang (setting) yang secara fundamental bertahan lama tetapi juga berubah dalam komunikasi dan interaksi sosial yang rutin, budaya adalah konteks.

Budaya adalah cara kita berbicara dan berpakaian, makanan yang kita makan dan cara kita menyiapkannya dan mengkonsumsinya, dewa-dewa yang kita ciptakan dan cara kita memujanya, cara kita membagi waktu dan ruang, cara kita menari, nilai-nilai yang kita sosialisasikan kepada anak-anak kita dan semua detail lainnya yang membentuk kehidupan sehari-hari.

11

Perspektif tentang budaya ini mengimplikasikan bahwa tak ada budaya yang secara inheren lebih unggul dari budaya yang lainnya dan bahwa kekayaan budaya tidak ada kaitannya sama sekali dengan status ekonomi, budaya sebagai kehidupan sehari-hari merupakan idea yang tetap demokratis.[7]

Sedangkan Richard E. Porter & Larry A. Samovar menyatakan bahwa Budaya berkenaan dengan cara manusia hidup. Manusia belajar berfikir, merasa, mempercayai dan mengusahakan apa yang patut menurut budayanya. Bahasa, persahabatan, kebiasaan makan, praktek komunikasi, tindakan-tindakan  sosial, kegiatan-kegiatan ekonomi dan politik serta teknologi, semua itu berdasarkan pola-pola budaya.

Budaya adalah sebuah konsep yang membangkitkan minat. Secara formal budaya didefinisikan sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, sikap, makna, hirarki, agama, waktu, peranan, hubungan ruang, konsep alam semesta, objek-objek materi dan milik yang diperoleh sekelompok besar orang dari generasi ke generasi melalui usaha individu maupun kelompok.[8]

Budaya menampakkan diri dalam pola-pola bahasa dan bentuk-bentuk kegiatan dan perilaku yang berfungsi sebagai model-model bagi tindakan-tindakan penyesuaian diri dan gaya komunikasi yang memungkinkan orang-orang tinggal dalam masyarakat di suatu lingkungan geografis tertentu pada suatu tingkat perkembangan teknis tertentu dan pada suatu saat tertentu. Budaya juga berkenaan dengan sifat-sifat dari obyek-obyek materi yang memainkan peranan penting dalam kehidupan sehari-hari. Obyek-obyek seperti rumah, alat dan mesin yang digunakan dalam industri dan pertanian, jenis-jenis transportasi dan alat-alat perang, menyediakan suatu landasan utama bagi kehidupan sosial.[9]

 

2.      Komponen Budaya

Kita sudah mengetahui bahwa semua manusia tergolong-golong dalam kelompok tertentu.pembentukan kelompok tersebut difaktori oleh kesamaan-kesamaan identitas diantara mereka. Kita mungkin bisa menamakan sekelompok mahasiswa Madura di fakultas da’wah sebagai mahasiswa yang agamis karena mereka berada di lingkunag institusi yang mempunyai basik keagamaan.

Faktor-faktor yang mendorong pembentukan kebudayaan suatu kelompok sering disebut komponen budaya. Ada beberapa komponen budaya yang paling penting yaitu: [10]

a.      Pandangan hidup,  kosmologi dan ontologi

Dalam setiap kebudayaan selalu ada pandangan hidup, kosmologi dan ontologi. Kehadiran ketiga komponen itu seolah-olah hanya bisa diterima namun tidak dapat dipahami atau dimengerti. Manakala seseorang dapat memahami pandangan hidup, kosmologi dan ontologi suatu masyarakat, dia memprediksi perilaku dan motivasi tiap dimensi itu.

Sebagai contoh dalam setiap struktur individu selalu terbentuk hierarki ontologi yang mengakui:(1) ada wujud tertinggi;(2) bersifat supernatural;(3) ada norma yang mengatur masalah kemanusiaan;(4) ada bentuk-bentuk rendah kehidupan; (5) ada obyek-obyek bukan manusia; (6) ada lingkungan alam. Persepsi manusia tentang relasi individu dengan unsur-unsur tersebut tersusun pada suatu hirarki berdasarkan atas kepentingan terhadap unsur ini, yakni kepercayaaan, sikap dan nilai. Tiga unsur ini selalu diokenal dalam setiap uraian  tentang ontologi kebudayaan.

1.      Kepercayaan

Rokeach, seorang psikologi mengemukakan bahwa kepercayaan, sikap, dan nilai berada dalam derajat hierarki tertentu. kata dia, ada lima tingkat kepercayaan, yaitu; pertama, kepercayaan primitif tanpa syarat. Kepercayaan ini merupakan inti dari seluruh sistem pengalaman langsung manusia. kepercayaan itu diperoleh dari keliompok yang sangat dekat dengan kita, misalnya keluarga. Sejak kecil ayah dan ibu mengajarkan kiota bahwa matahari terbit di sebelah Timur dan tenggelam di ufuk Barat. Ibu pun selalu mengingatkan kita supaya berhati-hati mendekati api. Mungkin waktu kecil kita selalu bertanya-tanya mengapa matahari harus terbit dari Timur dan bara  api harus panas, namun jawaban ibi pun secara gamblang menerangkan, “ibu juga tidak tau, karena kakekmu juga bilang seperti itu pada ibu”

Inilah bentuk kepercayaan primitif tanpa syarat, artinya kita tidak bisa memeberikan syarat baru kepada ibu untuk mengubah matahari terbit di Barat atau mengatakan baar bara api pasti dingin. Jadi kepercayaan tanpa syarat biasa berkaitan dengan obyek yang langsung dialami manusia dan apalagi peristiwa itu diyakini oleh seseorang yang patut kita percayaai tanpa syarat pula. Jenis kepercayaan ini tidak berubah.

Kedua, kepercayaan primitif dengan konsensus nol. Kepercayaan ini merupakan kepercayaanj yang dipelajari manusia dari pengalaman langsung , namun pengalaman it sangat pribadi, begutu pribadinay hingga manusia tidak dapat menjelaskanya lagi. Anda merasa dari pelbagai pengalaman terhadap jenis kegiatan tertentu, orang menilai anda rajin, energik, cepat dan tangkas dan mampu melayani diri sendiri, banyak orang pun mengatakan tentang anda demikian. Betulkah? Anda percaya saja karena semua orang menyukai anda sehungga tidak perlu membuat consensus dengan mereka. Jenis kepercayaan ini cepat berubah kalau terjadi perubahan consensus.

Ketiga, kepercayaan otoritas. Kadang-kadang kepercayaan otoritas dinilai sangat kontroversial karena trgantung dengan siapa manusia berhubungan dan membagi informasi, atau dari sumber mana informasi diperoleh. Contoh, tidakmada suatu pun anak menolak didikan orang tua bahwa “kejujuran adalah ibu dari kebijaksanaan”. Orang tua diasumsikan mempunya otoritas tertentu, kepercayaan terhadap pesan itu bisa berubah kalau ada jenis persuasi lain yang menerpa anda.

Keempat, kepercayaan perolehan. Kepercayaan perolehan merupakan kepercayaan yang diperoleh dari pertrukaran informasi dan komunikasi dengan sumber-sumber tertenru atau orang lain yang dianggap patut dipercayai, lebih ahli dan lebih tahu dalam bidang tersebut. kiata percaya pada dokter sehingga kalau anak anda sakit anda kemudian membawanya berobat kepada dia. Kepercayaan pada perolehan itu mudah berubah-ubah kalau muncul sumber baru yang lebih terpercaya.

Kelima. kepercayaan ngawur, kepercayaan ini berkaitan dengan preferensi individu dan perasaan yang relatif mudah tatkala memperoleh suatu informasi. Jenis kepercayaan ini mudah melanda manusia yang tidak mempunyai identitas diri.

2.      Sikap

Apabila persepsi hanya sampai pada tahap menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan, maka sikap lebih daris sekedar  menyimpulkan dan menafsirkan pesan.

Siafat- dasar sikap biasa dikaitkan dengan dua prinsip utama yaitu; pertama, tentang pengertian sikap it sendiri, yakni sebuah sistem penilaian yang relatif bertahan. Penilain itu bisa positif dan negatif tergantung atas ajaran kebudayaan tentang kepercayaan, perasaan atau emosi, dan kecenderungan bertindak terhadap obyek. Kedua, ada perbedaan yang diakibatkan oleh dampak sikap terhadap tindakan sosial yang tergantung atas karakteristik utama sikap.

Sikap dasar sikap terdiri atas subjek dan obyek sikap. Pertama, (orang y6ang bersikap). Setiap orang boleh mempunyai satu atau beberapa sikap terhadap orang lain, sekelompok orang,organisasi sosial, peristiwa politik dan ekonomi, seni, filsafat, bahkan sikapm terhadap hidup sesudah mati. Manusia bisa mempunyai satu sikap tertentu, bahkan banyak sikap dan mungkin derajat sikap terhadap obyek. Hal sikap yang beragamdan bertingkat itu sangat ditentukan oleh latar belakan kehidupan sosial, antropologis, psikologis, ekonomi, politik dan lingkungan kehidupan manusia. singkatnya, sikap trehadap obyek tergantung pada faktor manusia yang bersikap. Demikian anda tidakmperlu merasa heran kalau kebudayaan orang Norwegia membolehkan semuan anekdot yang universal bisa anda ucapkan namun anda jangan mengucapkan anekdot dari negeri asal anda, Indonesia. kedua, obyek sikap. Sikap kita terhadap suatu obyek ditentukan oleh tampilan obyek itu sendiri. Tampilan obyek itu sedemikian rupa sehingga dapat disensasi, menarik perhatian agar orang mempunyai harapan tertentu dan mencatat kesan terhadap obyek itu dalam memorinya.

Gambaran tentang subjek dan obyek sikap itu sekaligus menunjukan bahwa “sikap merupakan sebuah sistem penilaian yang relatif bertahan. Penilaian itu bisa bersifat positif atau negatif  yang berkaitan dengan kepercayaan, perasaan atau emosi, dan kecenderungan untuk bertindak terhadap objek”. Oleh karena itu, orang selalu berasumsi, sikap sam dengan pendapat, perasaan dan tindakan tertentu terhadap obyek.

3.      Nilai

Nilai atu value merupakan prinsip-prinsip sosial, tujuan atau standar yang diterima oleh individu dan kelompok orang, kelas sosial maupun masyarakat. nilai menurut soekamto dalam kamus sosiologi,adalah konsepsi-konsepsi abstrak di dalam diri manusia mengenmai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk.

Ada banyak jenis nilai, misalnya: 1) niali budaya yakni siatu nilai yang dirumuskan dan ditetapkan oleh suatu kebudayan; 2) nilai eksplisit adalah suatu nilai yang dirumuskan secara eksplisit; 3)nilai vocal, setiap nilai yang mempunyai acuan nilai yang lebih umum; 4) nilai implisit, yaitu nilai yang tidak dirumuskan secara eksplisit ; 5) nilai institusional adalah nilai yang dirumuskan oleh suatu lembaga di dalam masyarakat; 6) nilai obyektif adalah tolak ukur yang ditentuka oleh orang-orang, kelompok-kelompok atau lembaga-lembaga yang dibentuk atas dasar pembuktian oleh consensus kompetensi; 7) nilai okuposional adalah nila yang dianut ileh orang-orang yang mempunyai pekerjaan tertentu (nilai pekerjaan); 8) nilai sosial adalah nialai yang dianut oleh suatu kelompok atau masyarakat; 9) nilai sosietal adalah nilai yang dianut  oe\leh masyarakat teretntu; 10) nilai subyektif adalah tolak ukur penilaian yang diterima orang atau kelompok atas dasar konteks sosial masing-masing; 11) nilai ketahanan adalah kualitas atau cirri suatu unsur yang memberikan kekuatan kepada seseorang untuk bertahan; 12) nilai instrumental adalah suatu nilai yang menjadi sarana bagi nilai lainnya; 13) nilai terminal adalh suatu nilai yangtidak merupakan sarana bagi nilai lain, jadi dia merupakan nilai akhir bagi nilai tertentu lainnya.

 

b.      Bahasa, Sistem Simbol

Sebagian besar para ahli antropologi dan sosiologi mengemukakan kebudayaan ditandai oleh bahasa. Kebudayaan tanpa bahasa adalah kebudayaan tak beradap. Menurut mereka bahasa merupakan ciri kebudayaan,dari bahasa dapat kita ketahui derajat kebudayaan suatu suku bangsa. Pengembangan bahasa dalam sebuah kebudayaan merupakan isu sepanjang waktu, terutama dikaitkan dengan ilmu semantik.

Pembicaraan tentang bahasa tidak bisa dilepaskan  dari masalah simbol dan sign (tanda). Kita bicara tentang sign atau tanda artinya kita bicara tentang cara memberi makna terhadap obyek. Asap mungkin merupakan “tanda” bahwa disana ada api, namun kalau rumah yang tiada berasap mungkinmerupakan “simbol” ketiadaan makanan, hari raya nyepi dan lain-lain. Setiap suku bangsa menetapkan simbol-simbol kebudayaan untuk menyatakan kepentingan tertentu. Tanda dapat diartikan dengan cara  konotatif dan simbol dapat diartikan dengan cara denotatif. Begitu penting simbol dan tanda, maka, kata para ahli linguistik, ketika manusia berhenti bermain dengan tanda maka disana dimulai bahasa terbentuk dengan kata-kata.[11]

Setiap kebudayaan menjadikan bahasa sebagai media untuk menyatakan prinsip-prinsip ajaran, nilai dan norma budaya kepada para pendukungnya. Bahasa merupakan mediasi, pikiran, perkataan dan perbuatan. Seperti kebudayaan secara umum, bahasa dipelajari untuk melayani setiap pikiran manusia.

Bahasa menerjemahkan nilai dan norma, menerjemahkan skema kognitif manusia, menerjemahkan persepsi, sikap dan kepercayaan manusia tentang dunia para pendukungnya.

 

c.       Konsep Tentang Waktu

Setiap kebudayaan memiliki konsep tentang masa lalu, sekarang dan yang akan datang. Satu hal yang penting untuk memahami setiap kelompok adalah mengetahui struktur waktu dari kelompok tersebut. Mereka yang bukan anggota kelompok itu pasti mempunyai orientasi konsep waktu dan ruang yang berbeda.

Konsep waktu berhubungan misalnya dengan: yang pertama, pembagian nama penggalan waktu dalam satuan periode; misalnya dalam satu hari ada pagi, siang, malam, petang, senja, lewat tengah malam, menjelang pagi dan lain sebagainya. Dalam satu minggu ada beberapa hari misalnya hari pertama minggu, akhir pekan dan lain-lain; juga setiap bulan terdiri dari empat minggu dan 28-31 hari.

 

d.      Konsep Jarak atau Ruang

Setiap kebudayaan mengajarkan kepada anggotanya tentang orientasi terhadap ruang dan jarak. Ruang berhubungan dengan tata ruang lahan pemukiman, pertanian dan lain-lain.yang sifatnya lebih pada kepentingan relasi sosial, sedangkan jarak lebih banyak berhubungan dengan jarak fisik disaat bercakap-cakap.

Salah satu pengaruh dari tipe ekologi tegal tampak dalam pola permukiman desa. Dalam ekologi sawah dan areal desa-desa pesisir di Madura banyak yang seperti desa-desa di Jawa-terletak di dalam persawahan berpagar tanaman hijau, tersembunyi di kerindangan pepohonan, terlihat seperti pulau-pulau di tengah lautan ladang-ladang padi, dan terdiri dari dsesa krajan  (inti) dengan dusun-dusun kecilnya. Tetapi tipikal desa Madura di areal tegal terdiri sebuah kelompok unit yang sangat kecil, masing-masing dengan ladang dan ternak miliknya. Orang-orang tidak tinggal di kompleks desa, tetapi dalam kelompok empat atau lima keluarga dalam sebuah pekarangan tersendiri, dikelilingi dinding atau pagar. Biasanya keluarga-keluarga itu hidup dalam hubungan kekeluargaan, miskipun secara fisik mereka terpisah.[12]

Konsep desa di madura berbeda dengan di Jawa. Desa di Madura hanya merupakan satu wilayah territorial yang pada masa kekuasaan raja-raja pribumi maupun Belanda digunakan sebagai satu unit administrasi. Unit sosial di Madura, bahkan hingga kini, adalah pekarangan atau kelompok rumah yang disebut kampong meji. Jadi, sebuah teritorial desa di Madura terdiri dari beberapa subdesa, terdiri dari beberapa kampong meji, dan dan kampong meji terdiri dari beberapa keluarga. Dapat dibayangkan bahwa satu kelompok rumah semula merupakan sebuah rumah tinggal. Di tiap-tiap pemukiman desa, individu hanya terikat oleh kelompok sosial yang terdekat dalam erf (pekarangan, kampong meji), diman rumah dan keluarga mereka berada.[13]

Pola pemukiman masyarakat madura selain mengelompok, juga sangat berdekatan satu sama lainnya. Nyaris tidak ada ruang publik dalam pemukiman penduduk. Rumah tinggal yang berdekatan satu sama lainnya, mirip dengan kondisi perkotaan yang sangat padat penduduknya. Ruang sosial banyak dibangun diluar pemukiman penduduk. Rumah yang berdekatan dilakukan dengan berbagai pertimbangan; (1) kondisi pertanahan yang terjal dan tidak merata membuat mereka harus membangun rumah secara berdekatan, (2) untuk melawan kondisi cuaca yang sangat dingin, (3) ada tempat-tempat tertentu yang dilarang dibuat atau dibangun tempat tinggal, karena dianggap sebagai ruang yang sakral yang menjadi roh leluhur (dhanyang)

Hampir dapat dipastikan juga, tempat tinggal yang dibangun juga tanpa menyisakan halaman. Kalau pun ada, dipastikan sudah dimanfaatkan untuk menanam sayuran seperti; bawang prei, bayam, terong, cabai. Menariknya, beberapa bangunan  rumah seringkali pintu depannya tidak menjadi pintu utama untuk keluarga atau kerabat yang berkunjung. Pintu depan yang menghubungkan dengan ruang tamu, biasanya hanya dibuka atau digunakan ketika ada tamu dari luar daerah atau tamu penting yang berkunjung.

Bentuk rumah masyarakat madura tidak berbeda dengan bentuk rumah masyarakat luar Madura sekarang ini. Sebagai masyarakat adat, orang-orang Madura tidak memiliki rumah adat. Atau minimal rumah penduduk yang dianggap sebagai rumah khas kebudayaan madura. Dulu mereka memiliki rumah khas madura yang bangunannya terbuat dari ilalang yang disatukan, dan diikat dengan rotan. Rumah khas tersebut dibangun hanya dengan menggunakan bahan-bahan yang tersedia dari hutan sekitar pemukiman penduduk, tanpa ada satupun yang menggunakan bahan buatan manusia.

 

e.      Skema Kognitif

Skema kognitif dapat diartikan dengan sistem konsep-konsep kognitif yang dimiliki oleh individu atau sekelompok orang terhadap obyek tertentu. Setiap kebudayaan mengajari anggotanya skema kognitif atau yang sering disebut peta pandangan terhadap obyek. Skema tersebut merupakan pola-pola skematis dari bentuk interpretasi, pengorganisasian dan penggolongan atas data tentang dunia luar. Skema mempengaruhi keputusan individu untuk menentukan prioritas fungsi obyek berdasarkan waktu dan tempat. Skema kognitif umumnya ditentukan oleh persepsi individu yang dibentuk oleh pengalaman kognisi dia dari kebudayaannya. Oleh karena kebudayaan antar manusia itu berbeda-beda, skema kognisi manusia pun berbeda-beda.

Kata philips (1967) dalam Anderson dan Carter (1984) ada dua karakteristik dasar “skema” yakni organisasi dan adaptasi. [14] Setiap tindakan manusia selalu di organisasikan dan aspek dinamis dari organisasi tindakan adalah adaptasi. Adaptasi terdiri dari dua bentuk, yakni asimilasi dan akomodasi.

 

f.        Agama, Mitos dan Cara Menyatakannya

Setiap budaya mempunyai gejala dan peristiwa yang tidak dapat dijelaskan secara rasional tapi hanya berdasarkan pengalaman iman semata-mata.. Dimana komunitas mahasiswa madura adalah sebuah komunitas orang yang mendiami tempat tertentu yang disatukan oleh kesamaan tradisi, agama lokal serta sistem kepercayaannya.

Lembaga relegius dan kultural sdikit sekali menyuimbangkan kehidupan sosia; di sdesa. Hampir setiap keluarga memiliki langgar sendiri sebagai tempat pembinaan keagamaan tersendiri danjarang digunakan untuk seluruh desa. Masjid atau mesigit desa, kalau masjid itu ada, hanya digunakan untuk sholat Jum’at. Kurangnya pertaliandesa ditunjukanpula dengan ketidakhadiran seorang nenek moyang atau cikal bakal. Meskipun demikian mereka memiliki pesta tahunan desa yang diatur oleh Kepala Desa atau kliwon, atau berdasarkan penanggalan tradisional. Di dalam pesta tahunan itu terdapat beberapa upacara keagamaan dan adat, yang akan mempertemukan orang-orangsatu dengan lainnya untuk saling bergaul.[15]

Kekhasan keagamaan masyarakat madura adalah ketika penduduknya memperingati hari-hari besar agama, selalu diperingati dengan meriah . Dalam wawancara dengan seorang mahasiswa yang berasal dari Madura, Erliyanto (mahasiswa fakultas dakwah, jurusan PMI, semester VI), mengatakan bahwa setiap kali akan datang peringatan hari besar Islam, orang-orang Madura akan memperingatinya dengan acara yang besar-besaran  mereka akan mempersiapkan segala keperluan yang akan digunakan dalam memperingati hari besar Islam. semuanya itu dilakukan untuk memeriahkan peringatan hari besar Islam.

Berbagai bentuk tradisi yang sudah berumur berabad-abad lamanya itu dijaga secara cukup ketat oleh orang madura. orang madura misalnya bahkan memiliki ikatan yang sangat ideologis terhadap hampir semua ajaran dalam tradisi tersebut. Kepercayaan mendalam terhadap islam sebagai sentral ritualitas orang madura dan tempat-tempat sakral disekitarnya menunjukkan ragam keunikan tersebut hampir semua tempat suci itu, selain dikeramatkan juga memiliki berbagai legenda magis mistik di dalamnya.

 

g.      Hubungan Sosial dan Jaringan Komunikasi

Keluarga-keluarga selalu terbentuk dalam komunitas-komunitas kecil merupakan satu agen sosialisasi dalam sebuah kebudayaan. Dengan cara tertentu kebudayaan menentukan sifat struktur keluarga dan jaringan komunikasi. Di dalam semua kebudayaan, struktur keluarga merupakan masyarakat inti; selebihnya adalah keluarga yang diperluas. Bentuk-bentuk tersebut ditimbulkan oleh hubungan antara orang tua dengan anak-anak, hubungan antara paman dan bibi, kakek dan nenek, saudara-saudara sepupu dan lain-lain. Keluarga yang luas diyakini sebagai batas kesadaran komunitas yang diserahi tanggung jawab untuk menyelenggarakan kesejahteraan bagi sesama.

Masyarakat adat maduara biasanya memiliki suatu sistem kekerabatan yang khas dan unik. Sistem kekerabatan itu menjadi pembeda dengan yang lainnya. Namun masyarakat madura tidak memiliki sistem kekerabatan dengan penamaan yang khas. Hampir sebagian orang madura ketika ditanya tentang sistem kekerabatan memiliki jawaban yang tidak jelas. Mereka hanya percaya bahwa orang madura merupakan satu garis keturunan yang sama sejak dahulu.

Sebagaimana orang Jawa pada umumnya, orang madura memang lebih bersifat patrilineal dengan tetap memperhitungkan garis ayah. Tetapi, ternyata itu tidak semua, karena ada juga yang justru menerapkan garis seimbang (bilateral) antara garis ibu (matrilineal) dengan garis ayah (patrilineal). Realitas ini dapat dipahami melalui sistem pembagian warisan; yang dalam kenyataannya tidak memiliki kesamaan satu sama lain serta bagaimana mereka melangsungkan perkawinan. Artinya, orang-orang madura selalu memberikan jawaban berbeda berkaitan dengan bagaimana hukum adat mengatur hukum pewarisan dan lembaga perkawinan.

Mesklipun demikian orang Madura memiliki ikatan kekeluargaan cukup kuat dalam melakuakan kegiatan sosial. Hal ini bisa dilihat dari keterlibatan mereka jika salah satu dari anggota keluarga sedang melangsungkan suatu hajatan, sedang membuat rumah, atau sedang terkena musibah;kematian misalnya. Mendahulukan kepentingan keluarga memang merupakan salah satu bentuk ikatan kekerabatan yang cukup kuat pada orang-orang madura. Di samping itu ikatan gotong royong masyarakat Madura juga kuat sekali Peneliti sendiri pernah menemukan satu fakta tentang keterlibatan semua anggota keluarga dan teteangga dekat saling membantu ketika salah satu diantaranya sedang menyelenggarakan pesta perkawinan..

Sedangkan dalam sistem sosialnya, masyarakat Madura mengenal dua kepemimpinan yang menjadi panutan dan harus dipatuhi apa yang menjadi perintahnya. Adapun dari kedua pemimpin tersebut adalah, ialah (1) pemimpin formal atau kepala desa yang sering disebut dengan istilah setempat dengan petinggi, dan (2) pemimpin nonformal atau yang disebut dengan kiai.pimpinan formal atau petinggi bertugas mengatur administrasi pemerintah desa sehingga pengangkatannya disyahkan oleh Bupati Kepala Daerah Tingkat II.

Kiai atau kepala adat merupakan pemimpin bersifat nonformal ,meskipun nonformal, kharismatik kepemimpinannya cukup penting dan vital bagi berlangsungnya kehidupan adat istiadat. Hal ini karena kiai adat memegang kedudukan penting dalam setiap kegiatan adat, utamanya upacara adat.

 

B.     KOMUNIKASI

1.      Konsep Dasar  Komunikasi

Istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris communication berasaldari kata latin communicatio dan bersumber dari kata communis yang berarti sama. Sama disini maksudnya adalah sama makna .[16] Untuk mempermudah memahami makna komunikasi.Harold Laswell mengatakan bahwa cara untuk menjelaskan makna komunikasi adalah menjawab pertanyaan who say what in which channel to whom with what effect?. Paradigma Laswell menunjukkan bahwa komunikasi meliputi beberapa unsuryakni komunikator, pesan, media,  komunikan dan efek[17]

Menurut Schramm dan Robert (1977) mengemukakan lima pengertian komunikasi yang dikutipnya dari beberapa sumber.

a.          Komunikasi adalah suatu proses pemberian, penyampaian atau pertukaran gagasan, pengetahuan dan lain-lain yang dapat dilakukan melalui percakapan tulisan atau tanda-tanda ( Oxford, English Dictionary)

b.         Komunikasi adalah proses pengalihan pikiran-pikiran serta pesan-pesan seperti sarana transportasi yang mengangkut barang-barang dan manusia. Bentuk dasar komunikasi ditentukan oleh ” cahaya” yang bisa dilihat, dan suara yang bisa didengar. ( Colombia Encyclopedia)

c.          Dalam banyak hal komunikasi bisa diartikan sebagai suatu sistem yang didalamnya terkandung sumber, pengaruh terhadap orang lain ,tujuan atau sasaran yang melaksanakan rangkaian dengan memanipulasi pilihan tanda tertentu yang dapat dialihkan melalui saluran tertentu.

d.         Kata komunikasi dapat digunakan dalam arti yang luas meliputi prosedur yang mengatur bagaimana pikiran mempengaruhi orang lain. Dalam hal ini tidak saja dengan tulisan, lisan tetapi juga musik, teater, tindakan manusia. (Claude Shanon dan Werren Weaver)

e.          Komunikasi adalah mekanisme hubungan antar manusia yang menyebabkan manusia itu bertahan dan berkembang melalui penyampaian simbol pikiran melalui ruang dan waktu.[18]

 

2.      Simbol dan Kode Komunikasi

Sebagai makhluk sosial dan juga sebagai makhluk komunikasi, manusia, dalam hidupnya diliputi oleh berbagai macam simbol, baik yang diciptakan oleh manusia itu sendiri maupun yang bersifat alami.

Manusia dalam keberadaannya  memang memiliki keistimewaan dibanding dengan makhluk lainnya. Selain kemampuan daya pikirnya (super  rational), manusia juga memiliki ketrampilan berkomunikasi yang lebih indah dan lebih canggih (super sophisticated system of communication),[19] sehingga dalam berkomunikasi mereka bisa  mengatasi rintangan jarak dan waktu. Manusia mampu menciptakan simbol-simbol dan memberi arti pada gejala-gejala alam yang ada disekitarnya, sementara hewan hanya dapat mengandalkan bunyi dan bau secara terbatas.

Kemampuan manusia menciptakan simbol membuktikan bahwa manusia sudah memiliki kebudayaan yang tinggi dalam berkomunikasi, mulai dari simbol yang sederhana seperti bunyi dan isyarat, sampai kepada simbol yang dimodifikasi dalam bentuk signal-signal melalui gelombang udara dan cahaya, seperti radio, TV, telegram, telex dan satelit.

Hampir semua pernyataan manusia baik yang ditujukan untuk kepentingan dirinya, maupun untuk kepentingan orang lain dinyatakan dalam simbol. Hubungan antara pihak-pihak yang ikut serta dalam proses komunikasi banyak ditentukan oleh simbol atau lambang-lambang yang digunakan dalam berkomunikasi.

Di dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita tidak dapat membedakan pengertian simbol dan kode. Bahkan banyak orang yang menyamakan kedua konsep tersebut. Simbol adalah lambang yang memiliki suatu obyek, sedangkan kode adalah seperangkat simbol yang telah disusun secara sistematis dan teratur sehingga memiliki arti. Sebuah simbol yang tidak memiliki arti bukanlah kode. Kata David K Berlo (1960).[20]

Seorang penyair yang mengagumi sekuntum bunga akan mengeluarkan pernyataan lewat bahasa “alangkah indahnya bunga ini”, atau Lampu pengatur lalu lintas (traffic light) yang dipasang di pinggir jalan misalnya adalah simbol polisi lalu lintas, sedangkan simbol warna yang telah disusun secara teratur menjadi kode bagi pemakai jalan. Begitu juga halnya dengan letusan misalnya, ia adalah simbol dari senjata atau ban mobil yang pecah. Tetapi kalau letusan itu berlangsung 21 kali, maka ia menjadi kode penghormatan kepada tamu negara. Simbol merupakan hasil kreasi manusia dan sekaligus menunjukkan tingginya kualitas budaya manusia dalam berkomunikasi dengan sesamanya.

Simbol-simbol yang digunakan selain sudah ada yang diterima menurut konvensi internasional, seperti simbol-simbol lalu lintas, alfabet latin, simbol matematika, juga terdapat simbol-simbol lokal yang hanya bisa dimengerti oleh kelompok-kelompok masyarakat tertentu.

Simbol dapat dinyatakan dalam bentuk bahasa lisan atau tertulis (verbal) maupun isyarat-isyarat tertentu (nonverbal). Simbol membawa pernyataan dan diberi arti oleh penerima, karena itu memberi arti terhadap simbol yang dipakai dalam berkomunikasi bukanlah hal yang mudah, melainkan suatu persoalan yang cukup rumit.

Proses pemberian makna terhadap simbol-simbol yang digunakan dalam berkomunikasi, selain dipengaruhi faktor budaya, tetapi juga faktor psikologis, terutama pada saat pesan didekode oleh penerima. Sebuah pesan yang disampaikan dengan simbol yang sama, bisa saja berbeda arti bilamana individu yang menerima pesan itu berbeda dalam kerangka berfikir dan kerangka pengalaman.

Banyak kesalahan komunikasi (misscommunication) terjadi dalam masyarakat  karena tidak memahami simbol-simbol lokal. Di beberapa daerah tertentu yang masih tradisional, banyak pendatang kesasar dan menjadi korban penduduk asli karena tidak mengenal simbol atau kode yang digunakan oleh penduduk setempat.

Pemberian arti pada simbol adalah suatu proses komunikasi yang dipengaruhi oleh kondisi sosial budaya yang berkembang pada suatu masyarakat. Karena itu dapat disimpulkan bahwa:

a.       Semua kode memiliki unsur nyata

b.      Semua kode memiliki arti

c.       Semua kode tergantung pada persetujuan para pemakainya

d.      Semua kode memiliki fungsi

e.       Semua kode dapat dipindahkan, baik melalui media atau saluran-saluran komunikasi lainnya.

 

3.      Proses Komunikasi

Dalam ilmu komunikasi, proses komunikasi dibedakan menjadi dua yakni proses komunikasi primer dan skunder. Proses komunikasi primer adalah proses penyampaian pikiran dan atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (simbol) sebagai media.[21] Lambang yang digunakan dalam proses komunikasi primer adalah bahasa, kial, isyarat, gambar, warna dan sebagainya, yang secara langsung mampu menerjemahkan pikiran dan perasaan komunikator kepada komunikan.biasanya proses komunikasi ini dilakukan dalam bentuk komunikasi antarpersonal yang melibatkan dua orang dalam situasi interaksi, komunikator menjadi encoder (pengirim) dan komunikan menjadi decoder (penerima). Akan tetapi komunikasi antarpersonal ini bersifat dialogis, maka terjadilah pertukaran peran dimana komunikator dapat menjadi decoder (penerima) sedangkan komunikan dapat menjadi encoder (pengirim), dan terus menerus sebaliknya.

Dalam komunikasi antarpersonal, karena situasinya adalah tatap muka (face to face communication), tanggapan komunikan dapat diketahui, umpan balik dalam komunikasi ini bersifat langsung karena umpan balik seketika (immediate feedback). Berbeda dengan komunikasi bermedia.dimana tanggapan  atau umpan baliknya tertunda (delayed feedback).[22] Adapun yang dimaksud dengan proses komunikasi skunder adalah proses penyampaian oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media utama. Seorang komunikator menggunakan media kedua dalam proses komunikasinya karena komunikan sebagai sasarannya berada di tempat yang relatif lebih jauh atau jumlahnya banyak, seperti surat kabar, televisi, teleteks, surat, radio, telepon, film serta masih banyak lagi media kedua lainnya yang sering digunakan dalam komunikasi. Proses komunikasi sekunder biasanya dilakukan dalam bentuk komunikasi massa, yakni komunikasi melalui media massa, komunikasi massa memiliki kateristik sebagaimana berikut:

a.      Komunikasi Berlangsung Satu Arah

Hal ini menunjukkan dimana komunikasi massa berlangsung satu arah, dimana posisi komunikator seringkali mendominasi, sehingga tidak terjadi proses komunikasi yang dialogis, karena tidak dapat menerima langsung respon komunikan secara cepat dan langsung

 

b.      Komunikator Biasanya Berbentuk Lembaga

Media massa sebagai saluran komunikasi massa merupakan lembaga, yakni suatu institusi maupun organisasi, sehingga komunikatornya melembaga pula.sebagai konsekwensinya adalah peranannya dalam komunikasi ditunjang oleh orang lain. Kemunculannya dalam media tidak sendirian tetapi bersamaan orang lain.

 

c.       Pesan Dalam Komunkasi Massa Bersifat Umum

Pesan yang disebarkan bersifatumum karena ditujukan kepada umum dan mengenai kepentingan umum, jadi tidak ditujukan ke perseorangan tertentu atau sekelompok orang tertentu dan karena sasarannya untuk umum maka pesan yang ditujukan pun harus menyesuaikan komunikannya.

 

C.     KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA

Budaya merupakan enigma, sebuah teka teki atau pernyataan yang membingungkan (Ting-Toomey, 1999: 9). Budaya mempunyai komponen-komponen yang bersifat kongkrit dan abstrak  Budaya juag merupakan fenomena yang bersisi banyak (multifacet). Rongers & Steinfatt (1999: 79) mengatakan, bahwa budaya dapat diberi batsan sebagai keseluruhan cara hidup orang (the total way of life) yang tersusun berdasarkan pola-pola perilaku, nilai-nilai, norma-norma, dan objek-objek material yang mereka pelajari dan pertukarkan. Meskipun budaya merupakan sebuah konsep yang sang sangat umum, tetapi budaya memiliki efek yang sangat kuat terhadap perilaku individu, termasuk perilaku komunikasi. Budaya tidak hanya dimiliki oleh kelompok bangsa atau kelompok etnis, tetapi juga komunitas organisasi, dan sistem-sistem lain.

Budaya mencakup 3 (tiga) hal penting, yaitu 1) istilah budaya merujuk pada keragaman pool of knowledge, relitas- yang di pertukarkan, dan norma-norma yang dikelompokkan yang membentuk sistem-sistem makna yang dipelajari dalam masyarakat partikular; 2) sistem-sistem makna tersebuit dipertukarkan dan ditransmisikan melalui interaksi sehari-hari di antara para anggota kelompok kultural dan satu dari generasi ke generasi berikutnya; dan 3) budaya memfasilitasi kapasitas para anggota unguk bertahan hidup dan beradaptasi dengan lingkunag eksternal mereka.

Budaya sebagai komponen esensial dari usaha manusia untuk bertahan hidup (survive) dan berkembang dalam lingkungan partikular meraka, memiliki beberapa fungsi (Ting Toomy,1999:12-15), yaitu:

  1. Identity Meaning Function;

Budaya membrikan kerangka referensi untuk menjawab pertanyaan paling mendasar dariu keberadaan manusia : Siapa Saya? Keyakinan- keyakinan kultural, nilai-nilai, dan norma-norma memberikan titik pijak di mana sesorang dapat memberikan makna dan nilai penting bagi identitasnya. Makna identitas yang di dapat dari budaya dikonstruksikan dan dipelihara melalui komuniksi sehari-hari.

  1. Group Inclusion Finction:

Budaya menyajikan fungsi inklusi dalam kelompok yang bisa memuaskan kebutuhan seseorang terhadap afiliasi keanggotaan dan rasa ikut memiliki. Budaya menciptakan swbuah kawasan yang nyaman di mana seseorang dapat mengalami inklusi dalam kelompok dan membedakan antara in-group dan out group. Di dalam kelompoknya sendiri, seseorang akan merasakan adanya keamanan, inklusi, dan penerimaan.

  1. Intergroup Boundary Regulatioan Functio

Fungsi budaya ini membentuk sikap seseorang tentang in-group dan out-group berkaitan dengan orang yang secara kultural tidak sama (dissimiar). Sikap merupakan kecenderunagan yang dipelajari yang mempengaruhi perilaku seseorang. Budaya membantu seseorang untuk membentuk sikap evaluatif terhadap interaksi in-group dan out group. Sikap evaluatif bisa memiliki konotasi positif dan negatif.

  1. The Ecological Adaptation Function

Budaya memfasilitasi proses-proses adaptasi di antara diri (self), komunitas kultural, dan lingkungan yang lebih besar. Budaya bukanlah sebuah sistem yang statis. Ia bersifat dinamis dan berubah. Budaya menyusun sistem reward dan punishment yang jelas yang meneguhkan perilaku- adaptif tertentu dan memberi snagsi terhadap perilaku-perilaku non adaptif sepanjang waktu.

 

  1. The Cultural Communication Function

Secara mendasar berarti koordinasi mendasar antara budaya dengan komunikasi. Budaya mempengaruhi komunikasi dan komunikasi mempengaruhi budaya. Komunikasi kultural memberikan seperangkat hal-hal yang ideal tentang bagaimana interaksi sosial dapat dijalankan dengan lancar diantar individu-individu dalam suatu komunitas. Budaya mengikat orang secara bersama-sama melalui kode- linguistik yang dipertukarkan, norma-norma, dan scripts, yaitu rangkaian interaksi atau pola-pola komunikasi yang dipertukarkan oleh sekelompok orang dalam suati komunitas.

Ringkasnya, budaya diciptakan, dibentuk, ditransmisikan, dan dipelajari melalui komuniaksi; sebaliknya praktik-praktik komunikasi diciptakan, dibentuk, dan ditransminsikan melalui budaya (Schement (ed.),2002:207).[23]

 

D.    HUBUNGAN KOMUNIKASI DAN BUDAYA

Komunikasi dan tradisi tidak dapat dipisahkan oleh karena tradisi tidak hanya menentukan siapa bicara dengan siapa, tentang apa dan bagaimana komunikasi berlangsung, tetapi juga turut menentukan orang menyandi pesan, makna yang ia miliki untuk pesan dan kondisi-kondisinya untuk mengirim, memperhatikan dan menafsirkan pesan. Sebenarnya seluruh perbendaharaan perilaku kita sangat bergantung pada tradisi dimana kita bertempat tinggal dan dibesarkan. Hal inilah yang menandakan bahwa  tradisi adalah landasan komunikasi, bila budaya beraneka ragam maka beraneka ragam pula praktek serta model komunikasinya.[24]

Hubungan antara komunikasi dan tradisi penting untuk dipelajari, guna untuk memahami komunikasi antar budaya. Oleh karena melalui pengaruh budaya orang-orang akan belajar untuk berkomunikasi. Kemiripan budaya dalam persepsi memungkinkan pemberian makna yang mirip pula pada suatu objek sosial atau peristiwa. Cara kita berkomunikasi, keadaan-keadaan komunikasi kita, bahasa dan gaya bahasa yang kita gunakan, perilaku nonverbal kita, semuanya merupakan respon terhadap budaya dan fungsi daripada budaya itu sendiri.

Banyak aspek budaya mempengaruhi perilaku komunikasi kita sehari-hari. Unsur-unsur sosial budaya yang meliputi banyak kegiatan manusia yang berhubungan dengan persepsi, proses verbal serta proses nonverbal, semua menjadi bagian terpenting dibahas dalam perilaku berkomunikasi. Persepsi adalah proses internal yang kita lakukan untuk memilih, mengevaluasi, dan mengorganisasikan rangsangan dari lingkungan external. Persepsi seseorang sangat terpengaruh dan terdiri dari atas 3 unsur yakni sistem-sistem kepercayaan, nilai, sikap, pandangan dunia dan organisasi sosial.[25] Sementara  proses verbal tidak hanya meliputi bagaimana kita berbicara dengan orang lain, namun juga kegiatan-kegiatan internal, berfikir dan pengembangan makna bagi kata-kata yang kita gunakan.

Proses ini secara vital berhubungan dengan persepsi dan pembelian serta pernyataan makna. Adapun proses non verbal adalah yang berhubungan dengan pertukaran pemikiran dan gagasan dengan menggunakan simbol-simbol non verbal seperti isyarat, wajah, pandangan mata, gerakan tubuh serta simbol yang berhubungan dengan komunikasi lintas budaya seperti perilaku diam, konsep waktu,penggunaan dan pengaturan ruang, semua perilaku memiliki perbedaan antara satu budaya dengan budaya yang lain.

 

E.     HUBUNGAN MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN

Thomas Hobbes, seorang filusuf dan ahli ilmu politik, pada abad ke-19 menulis sebuah buku berjudul Leviathan. Hobbes mulai dengan satu hipotesis, bahwa setiap manusia mempunyai naluri berpolitik dan melibatkan diri dalam organisasi sosial. Menurutntya, naluri manusia itu merupakan sesuatu yang bersifat alamiah sehingga dia bisa melakukan tindakan apa saja untuk mengubah peranannya dalam masyarakat demi memenangkan atau merebut kekuasaan. Karena itu yang namanya masyarakat dibentuk oleh agregasi manusia ingin mempertahankan diri, mempertahankan keinginan dan kebutuhannya. Itulah bentuk hubungan yang paling radikal antara masyarakat dengan budaya[26]

Hubungan antara masyarakat dengan kebudayaan yang paling realistis ditunjukkan melalui keberadaan kebudayaan sebagai wadah unrtuk mempertahankan masyarakat dari berbagai ancaman yang menghadang mereka. Kebudayaan bisa menginformasikan tentang nilai suatu dan bebertapa peristiwa yang terjadi di masa lalu, sekarang dan yang akan datang. Kebudayaan mengajarkan kepada setiap manusia tentang apa yang dibuat oleh generasai manusia.

Wajarlah kalau setiap kelompok budaya selalu mempertahankan hubungan intrabudaya yang mewajibkan generasi yang lebih tua mensosialisasikan nilai perilaku-perilaku budaya baik secara bertahap maupun dipercepat melalui institusi sosial kepada generasi berikutnya.

Dalam kehidupan dikenal institusi-institusi seperti agama, pendidikan, rekreasi, kesehatan, serta institusi-institusi lain yang merupakan pranata kebudayaan yang menjamin perilaku manusia. Proses sosialisasi melalui instirtusi sosial tersebut telah memungkinkan manusia dimasukkan ke dalam lingkungan sosial dan kemasyarakatan. Jadi, setiap hubungan antar manusia dalam satu kebudayaan selalu diatur dengan sosialisasi indoktrinasi dan instruksi nilai-nilai.

 

F.      KERANGKA TEORITIK

Dalam penelitian ini menggunakan kerangka pemikiran yakni teori Interaksi Simbolik milik Herbert Blumer, kerangka pemikiran ini mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam dalam penelitian ini, karena didalamnya memiliki tendensi-tendensi pemikiran yang kuat untuk menganalisis penelitian ini untuk lebih jelasnya, akan kami bahas  mengenai kerangka pemikiran tersebut, sebagai berikut:

 

 

Teori Interaksi Simbolik

Istilah interaksi simbolik diciptakan oleh Herbert Blumer pada tahun 1937 dan dipopulerkan oleh Blumer juga,[27] meskipun sebenarnya Mead-lah yang paling popular sebagai peletak dasar teori tersebut.

Esensi dari teori  Interaksi simbolik adalah suatu aktivitas yang merupakan ciri khas manusia, yakni  komunikasi atau pertukaran symbol yang diberi makna Blumer mengkonseptualisasikan manusia sebagai pencipta atau pembentuk kembali lingkungannya, sebagai perancang dunia obyeknya dalam aliran tindakannya, alih–alih sekedar merespon pengharapan kelompok.

Perspektif interaksionisme simbolik berusaha memahami perilaku manusia dari sudut pandang subyek, perspektif ini menyarankan bahwa perilaku manusia harus dilihat sebagai proses yang memungkinkan manusia membentuk dan mengatur perilaku mereka dengan mempertimbangkan keberadaan orang lain yang menjadi mitra interaksi mereka.

Definisi yang mereka berikan kepada orang lain, situiasi, obyek dan bahkan pada diri mereka sendiri yang menentukan perilaku mereka. Perilaku mereka tidak dapat digolongkan sebagai kebutuhan, dorongan impuls, tuntutan budaya atau tuntutan peran, manusia bertindak hanya berdasarkan pada definisi atau penafsiran mereka atas obyek-obyek disekeliling mereka.

Dalam pandangan interaksi simbolik, sebagaimana ditegaskan Blumer proses sosial dalam kehidupan kelompoklah yang menciptakan dan menegakkan kehidupan kelompok, dalam konteks ini, maka  makna dikontruksikan dalam proses interaksi dan proses tersebut bukanlah suatu medium netral yang memungkinkan kekuatan-kekuatan sosial memainkan peranannya, melainkan justru merupakan substansi sebenarnya dari organisasi sosial  dan kekuatan sosial.

Bagi penganut interaksi simbolik memungkinkan mereka menghindari problem-problem struktulisme dan idealisme dan mengemudikan jalan tengah dari problem tersebut.

Menurut teori Interaksi simbolik, kehidupan sosial pada dasarnya adalah interaksi manusia yang menggunakan simbol-simbol, mereka tertarik pada cara manusia menggunakan simbol-simbol yang merepresentasikan apa yang mereka maksudkan untuk berkomunikasi dengan sesamanya. Dan juga pengaruh yang ditimbulkan dari penafsiran simbol-simbol tersebut terhadap perilaku pihak-pihak yang terlihat dalam interaksi sosial.[28]

Penganut interaksi simbolik berpandangan, perilaku manusia pada dasarnya adalah produk dari interpretasi mereka atas dunia dari sekeliling mereka jadi tidak mengakui bahwa perilaku itu dipelajari atau ditentukan sebagaimana dianut teori Behavioristik atau teori struktural.

Secara ringkas Teori Interaksionisme simbolik didasarkan pada premis-premis berikut,[29] Pertama individu merespon suatu situasi simbolik, mereka merespon lingkungan termasuk obyek fisik (benda) dan Obyek sosial (perilaku manusia) berdasarkan media  yang dikandung komponen-komponen lingkungan tersebut bagi mereka.

Kedua, makna adalah produk interaksi sosial, karena itu makna tidak melihat pada obyek, melainkan dinegosiasikan melalui penggunaan bahasa, negosiasi itu dimungkinkan karena manusia mampu mewarnai segala sesuatu bukan hanya obyek fisik, tindakan atau peristiwa (bahkan tanpa kehadiran obyek fisik, tindakan atau peristiwa itu) namun juga gagasan yang abstrak.

Ketiga, makna yang interpretasikan individu dapat berubah dari waktu ke waktu, sejalan dengan perubahan situasi yang ditemukan dalam interaksi sosial, perubahan interpretasi dimungkinkan karena individu dapat melakukan proses mental, yakni berkomunikasi dengan dirinya sendiri.

 

G.    KAJIAN KEPUSTAKAAN PENELITIAN TERDAHULU

Maksud kajian kepustakaan penelitian ini adalah memuat tentang hasil penelitian yang pernah ada. Sepanjang upaya penelitian dalam melakukan penelusuran hasil-hasil penelitian yang berjudul “ Tradisi Komunikasi Mahasiswa Madura,” berbeda dengan penelitian-penelitian lain, terutama dalam hal metode penelitian dan obyek penelitian, walaupun begitu, masih banyak perbedaan lain terutama terletak pada rumusan masalah. Misalnya.

1.      Amy Maulana, judul skripsi “Proses Komunikasi Masyarakat Tionghua dan Pribumi Di Kembang Jepun Surabaya”, yang mengangkat tentang fenomena etnis tionghoa yang merupaka minoiritas di negeri ini dan meski telah lama berada atau bahkan lahir di Indonesia teapi masih diakui sebagai warga negara asing (WNA), atau WNI keturunan yang memiliki hak yang berbeda dengan kaum pribumi. Dan dengan pembauranya dengan kaum pribumi terdapat hambatan-hambatan yang menjadi titik masalah dalam penelitian tersebut. hambatan-hambatan tersebut berupa prasangka-prasangka sosial dan potensi etnosentrisme. Di samping itu muncul pula problem komuniaksi antarpribadi akibat dari latar belakang budaya pada pola komunikasi masing-masing etnis. Dan muncul perbedaan paradigma antara keduanya mengenai usaha-usaha pembaharuan. Menurut komunitas tionghoa perlu adanya pemehaman pluralisme, sementara masuh banyak orang pribumi menginginkan akulturasi karena orang tionghoa adalah komunitas pendatang.

Meski kalau dilihat sepintas kedua penelitian ini hampir sama tetapi ada perbedaan yang mendasar. Dari penelitian Amy Maulana terdapat dua kubu yaitu komunitas tionghoa sebagai pendatang dan warga pribumi yang didefinisikan sebagai aorang asli Indonesia. Pada penelitian ini mahasiswa Madura sebagai subjek penelitian kedudukanya sejajar yaitu sama-sama pendatang dengan satu tujuan yaitu menuntut ilmu di tingkat perguruan tinggi.

Dalam penelitian Amy Maulana menampilkan dua suku bangsa yaitu komunitas tionghoa dan kaum pribumi, sedangkan dalam penelitian ini subjek penelitianya yaitu mahasiswa Madura yang  berasal dari suku bangsa, adat istiadat, bahasa, latar belakang yang sama yaitu sama-sama dari daerah Madura.

2.      Yadida Azimah Syahdini, 2006; Budaya Komuniaksi Masyarakat Tengger (Studi di Desa Ngadisari Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo ), yang mengangkat tentang budaya komunikasi masyarakat tenggeer. Temuan yang diperoleh dari penelitiann ini menjelaskan bahwa budaya komunikasi masyarakat tengger adalah budaya komunikasi yang lebih mengarah pada budaya tingkat rendah, di mana dalam berkomunikasi masyarakat tengger lebih mengedepankansisi emosional, perasaan daripada sebuah logika (rasionalitas). Hal ini dikarenakan masyarakat tengger sangat menjunjung tingi sikap tiposelero atau tenggang rasa antara sesama masyarakat tengger.

Sementara itu, dalam penelitian ini penulis meneliti subyek dan obyek yang berbeda yaitu “tradisi komunikasi mahasiswa Madura (studi deskriptif di fakultas dakwah IAIN Sunan Ampel Surabya)”. Hasil penelitin ini dapat peneliti simpulkan bahwa tradisi komunikasi yang dilakukan mahasiswa Madura  adalah tradisi komunikasi yang terbuka,langsung, penuh emosiaonal dan terkenal keras. Dimana penyampaian pesan dalam komuniukasi dilakukan secara balak-blakkan dan terus terang bahkan dengan nada tinggi. Adanya perbedaan logat atau dialek antara mahasiswa yang berasal dari sumenep, Pamekasan, sampang, dan Bangkalan tidak menjadikan proses komunikasi pasif, karena miskipun demikian mereka bisa memahami dan mengerti dialek-dialek maupun logat-logat Madura. dan itu sudah menjadi suatu ciri khas bahasa dan dialek masyarakat daerah Madura.

Meskipun ada kesamaan penelitian antar keduanya, namun karena subyek dan obyek yang diteliti tidak sama, mak nanti secara terperinci hasilnya akan berbeda .

3.      Henda Purnamawati, 2006. Sikap Etnosentris dalam Komuniaksi Antar Budaya (Studi Deskriptif tentang Sikap Etnosentris pada Mahasiswa Indekos di Wonocolo Surabaya). Penelitian ini mengangkat tentang sikap etnosentris pada mahasiswa indekos dan model interaksi antara mahasiswa yang berbeda budaya dalam kingkungan indekos di Wonocolo.

Dari penelitian ini temuan yang diperoleh adalah bahwa hal-hal yang membentuk sikap etnosentris antara lain; adanya stereotip atau prasangka masing-masing suku terhadap suku lainnya, serta adanya jarak sosial, yang dimaksud disini  adalah tingkat penerimaan seseorang terhadap orang lain, dalam penelitian ini didasarkan pada perbedaan suku bangsa, budaya, daerah asal dan lain-lain. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan seseorang adalah jarak geografis dan kesamaan pengalaman. Model interaksi yang mereka gunakan adalah bahasa Jawa sebagai bahasa mayoritas suku dan penduduk di sekitar kos. Namun tak jarang terjadi pendiskriminasi bahasa yang dirasa kan oleh suku minoritas.

Dari penelitian dsiatas terdapat pesamaan dengan penelitian penulis yaitu penggunaan bahasa sebagai media komunikasi dalam berinteraksi. Di samping itu yang membedakan antara keduanya adalah penggunaan bahasa Jawa dan penggunaan bahasa Madura sebagai kajian penelitian.

Banyak lagi kajian kepustakaa terdahulu yang relevan bagi pembanding penelitia ini seperti karya Ernis Hidayati, yang berjudul “Pola Komunikasi di Panti Asuhan Muhammadiyah Blitar”, yang mengangkat tentang pola komunikasi antara pengurus dan anak asuh serta hambatan-hambatan yang muncul antara pengurus dan anak asuh dalam berkomunikasi di panti Asuhan Muhammadiyah Blitar.


 

BAB III

 

METODE PENELITIAN

 

A.     Pendekatan dan Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografis, yang mencoba melakukan pengumpulan, penggolongan (pengklasifikasian) dan penganalisaan berbagai bentuk taradisi komunikasi mahasiswa Madura. Analisis penelitian ini tidak ubahnya dengan analisis data penelitian kualitatif dengan berdasarkan pada; data yang muncul berwujud kata-kata dan bukan rangkaian angka. Data ini dikumpulkan melalui berbagai macam cara; dokumentasi, wawancara, dan observasi.

Jenis penelitian ini termasuk penelitian kualitatif dengan berdasarkan pada  data yang muncul berwujud kata-kata dan bukan rangkaian angka serta menggunakan metode penelitian deskriptif artinya melukiskan variabel demi variabel, satu demi satu. Metode penelitian deskriptif  bertujuan untuk :

  1. Mengumpulkan informasi aktual secara rinci yang melukiskan gejala yang ada.
  2. Mengidentifikasi masalah atau memeriksa kondisi dan praktek-praktek yang berlaku.
  3. Membuat perbandingan atau evaluasi.
  4. Menentukan apa yang dilakukan dalam menghadapi masalah yang sama dan belajar dari pengalaman mereka untuk menetapkan rencana dan keputusan pada waktu yang akan datang.[30]

49

 

Dengan demikian, metode deskriptif ini digunakan untuk menggambarkan secara sistematis dan mendalam fakta atau karakteristik populasi tertentu atau bidang tertentu, dalam hal ini kajian tradisi komunikasi, secara aktual dan cermat.

Metode ini menitik beratkan pada observasi dan suasana alamiah. Peneliti bertindak sebagai pengamat. Ia hanya membuat kategori pelaku, mengamati gejala dan mencatatnya dalam buku observasi. Dengan suasana alamiah berarti peneliti terjun ke lapangan. Ia tidak berusaha memanipulasi variabel karena kehadirannya mungkin mempengaruhi gejala, peneliti harus berusaha memperkecil pengaruh tersebut.[31] Dalam menggali data bagi proses validitas penelitian ini, tetapi tetap menggunakan dokumentasi.

Melihat konsepsi penelitian diatas, maka sudah sesuai dengan konteks permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini. Karena dalam penelitian ini, peneliti ingin mengetahui taradisi komunikasi mahasiswa Madura khususnya di fakultas dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya  dari segi penggunaan bahasa serta simbol-simbol komunikasi yang digunakan dalam proses komunikasi mereka sehari-hari. Setelah mendapatkan data atau informasi yang dimaksud, maka langkah selanjutnya yang ditempuh oleh peneliti yaitu menggambarkan informasi atau data tersebut secara sistematis untuk kemudian di analisis dengan menggunakan perbandingan dan perpaduan dengan teori yang sudah ada.

 

 

B.    Subyek Penelitian

Subyek penelitian ini adalah mahasiswa Madura yang mempunyai taradisi komunikasi dalam berinteraksi dengan mahasiswa Madura lainya di Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya. Mahasiswa Madura dalam konteks ini adalah mahasiswa Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya yang berasal dari Madura. Alasan dipilihnya Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya sebagai tempat penelitian, karena mahasisawa Madura di Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya  masih kuat mempertahankan identitas kulturnya melalui berbagai ritualitas maupun rutinitas sehari-hari, ungkap Zubair Ilyas, mahasiswa Fakultas Dakwah, jurusan sosiologi semester VI, yang berasal dari Sumenep.. Kuatnya identitas kultural tersebut diperkuat dengan masih membudayanya bentuk-bentuk atau model-model bahasa yang digunakan  dalam kehidupan sehari-hari.

 

C.    Jenis dan Sumber data

Jenis data dalam penelitian ini dibagi dalam bentuk kata-kata dan tindakan serta sumber data yang tertulis.[32] Sedangkan sumber data dalam penelitian ini, disesuaikan dengan apa yang dikonsepsikan oleh Lofland dan Lofland (1984: 47), bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain.[33] Berikut ini akan peneliti jelaskan mengenai jenis-jenis data yang berbentuk kata-kata dan tindakan serta sumber data yang tertulis.

 

 

1.   Kata-kata dan Tindakan

Kata-kata dan tindakan yang diamati atau diwawancarai merupakan sumber utama. Sumber data utama dicatat melalui cacatan tertulis atau melalui perekaman video/audio tapes, pengambilan foto atau film.[34]

Dalam upaya mengumpulkan sumber data yang berupa kata-kata dan tindakan dengan menggunakan alat (instrumen) penelitian seperti tersebut di atas merupakan konsep yang ideal, tetapi dalam konteks ini, ketika peneliti melakukan proses wawancara dalam upaya menggali data atau informasi yang berkaitan dengan penelitian ini, peneliti hanya menggunakan alat bantu yang berupa referensi sebagai pisau bedah di lapangan dan buku tulis serta bolpoint untuk mencatat informasi yang disampaikan oleh informan yakni Mahasiswa madura yang masih aktif kuliah di fakultas dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya..

 

2.   Sumber Tertulis

Sumber tertulis dapat dikatakan sebagai sumber kedua yang berasal dari luar sumber kata-kata dan tindakan. Dilihat dari sumber data, bahan tambahan yang berasal dari sumber tertulis dapat dibagi atas sumber buku dan majalah ilmiah, sumber dari arsip, dokumen pribadi dan dokumen resmi.[35]

Dalam konteks ini, upaya untuk menggali data informasi yang berkaitan dengan permasalahan penelitian, peneliti mencari sumber data tertulis untuk memperkuat hasil penelitian. Dalam hal ini peneliti mendapatkan sumber data tertulis berupa buku yang berkaitan dengan permasalahan penelitian, peneliti mencari sumber data  tertulis untuk memperkuat hasil penelitian. dalam hal ini peneliti mendapatkan sumber data tertulis berupa buku yang berkaitan dengan kajian tradisi komunikasi mahasiswa madura serta buku tentang perubahan sosial dalam masyarakat agraris Madura dan berbagai buku penunjang lainnya.

           

D.    Tehnik Pengumpulan Data

Pengumpulan data adalah suatu proses pengadaan data primer untuk keperluan penelitian. Pengumpulan data adalah langkah yang amat penting dalam metode ilmiah, karena pada umumnya data yang dikumpulkan digunakan untuk menguji hipotesa yang sudah dirumuskan.[36]

Dalam penelitian ini, pengumpulan data akan dilakukan langsung oleh peneliti dalam situasi yang sesungguhnya. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yang digunakan adalah data dokumentasi, wawancara mendalam yang berhubungan dengan data yang diperlukan dan observasi.

 

1.      Dokumentasi

Penggunaan data dokumentasi dalam penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi yang berhubungan dengan data-data tentang berbagai hal yang berhubungan dengan tradisi komunikasi mahasiswa madura dari segi penggunaan bahasa serta simbol-simbol komunikasi yang digunakan dalam proses komunikasi mereka sehari-hari. Seperti peta wilayah, foto-foto dokumenter aktifitas mahasiswa madura khususnya di fakultas dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya. Teknik dokumentasi ini juga digunakan untuk mendapatkan informasi dan data-data sekunder yang berhubungan dengan fokus penelitian.

 

2.      Wawancara

Sedangkan penggunaan wawancara mendalam (dept interview) dalam penelitian ini adalah untuk mendapatkan data primer dari subyek penelitian dengan cara wawancara mendalam yang tidak berstruktur, dengan pertimbangan supaya dapat berkembang sesuai dengan kepentingan penelitian. Wawancara dalam penelitian ini bertujuan juga untuk mengumpulkan keterangan tentang pola interaksi sosial yang memunculkan tradisi komunikasi mahasiswa madura.

Wawancara dilakukan dengan dua cara yaitu, wawancara berencana dan wawancara tidak berencana. Perbedaannya terletak pada perlu tidaknya peneliti menyusun daftar pertanyaan kepada responden. Sedangkan dilihat dari bentuk pertanyaannya, tehnik wawancara dibagi dalam dua hal, yakni wawancara terbuka, dimana responden memiliki kebebasan dalam memberikan jawaban, dan wawancara tertutup, jawaban responden bersifat terbatas. Itulah sebabnya, peneliti merasa perlu menyusun berbagai draf pertanyaan yang akan diajukan sebagai guide line dalam setiap wawancara.

 

3.      Observasi

Metode ini menggunakan pengamatan atau penginderaan langsung terhadap suatu benda, kondisi, situasi, proses atau perilaku. Pengumpulan data dengan menggunakan alat indera dan diikuti dengan pencatatan secara sistematis terhadap gejala-gejala atau fenomena yang diteliti.

Observasi dilakukan bila belum banyak keterangan yang dimiliki tentang masalah yang diselidiki. Dari hasil observasi, dapat diperoleh gambaran yang lebih jelas tentang masalahnya dan mungkin petunjuk-petunjuk tentang cara memecahkan.[37]

Penggunaan metode observasi dalam penelitian ini, sesuai yang di kemukakan oleh Blak dan Champion (1999), antara lain: pertama,  untuk mengamati fenomena sosial-keagamaan sebagai peristiwa aktual yang memungkinkan peneliti memandang fenomena tersebut sebagai proses; kedua, untuk menyajikan kembali gambaran dari fenomena sosial-keagamaan dalam laporan penelitian dan penyajiannya; dan ketiga, untuk melakukan eksplorasi atas setting sosial dimana fenomena itu terjadi. Sementara H.B. Sutopo (1997), mengemukakan bahwa teknik observasi digunakan untuk menggali data dari sumber data yang berupa peristiwa, tempat, lokasi dan benda serta rekaman gambar. Observasi dapat dilakukan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Observasi langsung dapat mengambil peran maupun tidak berperan. Spradley (1980), menjelaskan bahwa peran peneliti dalam metode observasi dapat dibagi menjadi: (1). Tak berperan sama sekali, (2). Berperan aktif, (3). Berperan pasif, dan (4). Berperan penuh, dalam arti peneliti benar-benar menjadi warga atau anggota kelompok yang sedang diamati.[38]

Sebagai jenis penelitian etnografi, maka observasi dilakukan dengan pengamatan terlibat, dimana peneliti ikut serta berpartisipasi dalam setiap bentuk interaksi sosial mahasiswa madura. Dalam pelaksanaan pengamatan terlibat, peneliti harus memupuk lebih dahulu hubugan baik dan mendalam dengan informan. Ada rasa saling mempercayai antara peneliti dengan informan. Keterlibatan ini dilakukan agar diperoleh data yang sebenarnya dari para informan, bukan dari sebuah perilaku interaksi sosial yang dibuat-buat atau direkayasa.

 

E.     Tahap -Tahap Penelitian

Tahap-tahap penelitian yang digunakan peneliti dalam penelitian ini ada dua, yaitu :

1.      Tahap Pra Lapangan

a.       Menyusun Rancangan Penelitian[39]

 

 

Dalam konteks ini, peneliti terlebih dahulu membuat rumusan permasalahan yang akan dijadikan obyek penelitian, untuk kemudian membuat matrik usulan judul penelitian sebelum melaksanakan penelitian hingga membuat proposal penelitian.

b.      Memilih Lapangan Penelitian

Cara terbaik yang perlu ditempuh dalam penentuan lapangan penelitian ialah dengan jalan mempertimbangkan teori substantif, pergilah dan jajakilah lapangan untuk melihat apakah terdapat kesesuaian dengan kenyataan yang berada di lapangan.[40]

c.       Mengurus Perizinan

Setelah membuat usulan penelitian dalam bentuk proposal, peneliti mengurus izin kepada atasan peneliti sendiri, ketua jurusan, dekan fakultas, kepala instansi seperti pusat dan lain-lain.[41]

 

2.      Tahap Orientasi

Pada tahap ini, peneliti akan mengadakan pengumpulan data secara umum, melakukan observasi dan wawancara mendalam untuk memperoleh informasi luas mengenai hal-hal yang umum dari obyek penelitian. Informasi dari sejumlah responden di analisis untuk memperoleh hal-hal yang menonjol, menarik, penting dan berguna bagi penelitian selanjutnya secara mendalam. Informasi seperti itulah yang selanjutnya digunakan sebagai fokus penelitian.[42]

 

3.      Tahap Eksplorasi

Pada tahap ini, fokus penelitian lebih jelas sehingga dapat dikumpulkan data yang lebih terarah dan spesifik. Observasi ditujukan pada hal-hal yang dianggap ada hubungannya dengan fokus. Wawancara lebih berstruktur dan mendalam (dept interview) sehingga informasi yang mendalam dan bermakna dapat diperoleh.[43]

 

F.     Tehnik Analisis Data

Definisi analisis data, banyak dikemukakan oleh para ahli metodologi penelitian. Berikut ini adalah definisi analisis data yang dikemukakan oleh para ahli metodologi penelitian tersebut, yang terdiri dari

1.   Menurut Bogdan dan Taylor (1971), analisis data adalah proses yang merinci usaha formal untuk menemukan tema dan merumuskan hipotesis (ide) seperti yang disarankan oleh data dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan pada tema dan hipotesa itu.

2.   Menurut Lexy J. Moleong (2002), analisis data adalah proses mengorganisasikan dari mengurutkan data ke dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar, sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data.

Dari pengertian diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa, analisis data adalah rangkaian kegiatan penelaahan, pengelompokan, sistematisasi, penafsiran, dan verifikasi data agar sebuah fenomena memiliki nilai sosial, akademik dan ilmiah

Analisis data dilaksanakan mulai penetapan masalah, pengumpulan data dan setelah data terkumpulkan.  Dengan menetapkan masalah penelitian, peneliti sudah melakukan analisis terhadap permasalahan tersebut dalam berbagai perspektif teori dan metode yang digunakan yakni metode alir. Analisis dalam penelitian ini terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan.[44] Tahap analisis data dalam penelitian kualitatif secara umum di mulai sejak pengumpulan data 1) reduksi data, yang diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan – catatan tertulis di lapangan; 2) penyajian data (display data) dilakukan dengan menggunakan bentuk teks naratif dan 3) penarikan kesimpulan serta verifikasi. Proses analisis melalui model alir  tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :[45]

 

 

 

 

Skema 1

Proses Analisis Data

Pengumpulan

Data

Penyajian

Data

Reduksi

Data

Simpulan Verifikasi

 

 

 

 

 

 

Teknik analisis data dalam penelitian ini, dilakukan setelah data-data diperoleh melalui teknik wawancara mendalam dan observasi. Kemudian data-data tersebut, di analisis secara saling berhubungan untuk mendapatkan dugaan sementara, yang dipakai dasar untuk mengumpulkan data berikutnya, lalu dikonfirmasikan dengan informan secara terus menerus secara triangulasi. 

 

G.   Tehnik Keabsahan Data

Teknik keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini, seperti yang dirumuskan ada tiga macam yaitu, antara lain :

1.      Perpanjangan Keikutsertaan

Keikutsertaan peneliti sangat menentukan dalam pengumpulan data. Keikutsertaan tersebut tidak hanya dilakukan dalam waktu singkat, tetapi memerlukan perpanjangan keikutsertaan peneliti pada latar penelitian.[46] Dalam konteks ini, dalam upaya menggali data atau informasi yang berkaitan dengan permasalahan penelitian, peneliti selalu ikut serta dengan informan utama dalam upaya menggali informasi yang berkaitan dengan fokus penelitian. Misalnya peneliti selalu bersama informan utama dalam melihat lokasi penelitian.

2.      Ketekunan Pengamatan

Ketekunan pengamatan dilakukan dengan maksud menemukan ciri-ciri dan unsur – unsur dalam situasi yang relevan atau isu yang sedang dicari dan kemudian memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci.[47]

Dalam konteks ini, sebelum mengambil pembahasan penelitian, peneliti telah melakukan pengamatan terlebih dahulu secara tekun dalam upaya menggali data atau informasi untuk di jadikan obyek penelitian dalam rangka memenuhi persyaratan untuk meraih gelar S-1, yang pada akhirnya peneliti menemukan permasalahan yang menarik untuk dibedah, yaitu masalah tradisi komunikasi mahasiswa madura khususnya di fakultas dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya  dari segi penggunaan bahasa serta simbol-simbol yang digunakan dalam proses komunikasi mereka sehari–hari.

Triangulasi

Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Denzin (1978), membedakan empat macam triangulasi sebagai teknik pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyedik dan teori.[48]

Validitas dan obyektifitas merupakan persoalan fundamental dalam kegiatan ilmiah. Agar data yang diperoleh peneliti memiliki validitas dan obyektifitas yang tinggi, diperlukan beberapa persyaratan yang diperlukan. Berikut ini akan peneliti kemukakan metode yang digunakan untuk meningkatkan validitas dan obyektifitas suatu penelitian, terutama dalam penelitian kualitatif. Robert K. Yin (1996), mensyaratkan adanya validitas design penelitian. Untuk itu, Paton (1984), menyarankan diterapkan teknik triangulasi sebagai validitas design penelitian. Adapun teknik triangulasi yang peneliti pakai dalam penelitian ini adalah triangulasi data atau triangulasi sumber. Sebagaimana dikemukakan Yin, triangulasi data dimaksudkan agar dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan multi sumber data. [49]

Dalam konteks ini, upaya yang dilakukan oleh peneliti dalam pengecekan data yaitu dengan menggunakan sumber data, baik itu sumber data primer yang berupa hasil wawancara maupun sumber data sekunder yang berupa buku, majalah dan dokumen lainnya. Dengan memanfaatkan data (kualitatif) dari hasil observasi dan wawancara mendalam, dengan tujuan memberikan eksplanasi dan pemahaman yang lebih luas atas hasil data yang dikumpulkan. Dan kemudian peneliti melakukan langkah membandingkan atau mengkorelasikan hasil penelitian dengan teori yang telah ada. Hal itu dilakukan untuk mencari perbandingan atau hubungan antara hasil penelitian dengan teori yang telah ada.

 


 

BAB IV

PENYAJIAN DATA

 

A.     DESKRIPSI OBYEK PENELITIAN

1.       Letak Geografis

Dilihat secara geografis, IAIN Sunan Ampel berada di wilayah Surabaya Selatan. Yaitu di Jl. Jend. A. Yani 117 Surabaya. Lokasi IAIN Sunan Ampel berada sebelah timur jalan yang merupakan jalur utama gerbang kota Surabaya.

Kampus IAIN Sunan Ampel, tepat berada di depan kantor kepolisian Jawa Timur (POLDA JATIM), Universitas Bhayangkara (UBHARA) dan Graha Pena (PT. Jawa Pos). sedang di sebelah Utara terdapat bangunan Expo Jatim dan di sebelah Selatan terdapat PT. Perum Peruri yang bergerak di bidang pembuatan Materai.

Fakultas Dakwah merupakan salah satu Fakultas di lingkungan IAIN Sunan Ampel yang berdiri megah di sebelah timur laut menghadap ke barat.

Sarana perkuliahan Fakultas Dakwah ini terdiri dari dua gedung masing-masing tiga lantai, yang memiliki ruang perkulihan, Aula, ruang komputer, ruang dosen, laboratorium audio visual, laboratorium foto grafi, laboratorium psikologi dan konseling, laboratorium desain grafis ndan animasi.

64

 

2.       Sejarah Fakultas Dakwah

Fakultas Dakwah dari Surabaya berdiri dengan latar IAIN  di Jawa Timur dengan   nama “Sunan Ampel” Berdasarkan SK menteri agama no. 20/1965,tepatnya bulan Juli 1965, berpusat di Surabaya dengan tiga Fakultas yakni Fakultas Syari’ah di surabya, Fakultas Tarbiyah di Malang dan dan Fakultas Ushuluddin di Kediri.

Dalam perkembangna selanjutnya, lahirlah Fakultas Dakwah bersamaan dengan diperolehnya status akademik bagi ilmu Dakwah. Berdirinya Fakultas Dakwah lebih mempertimbangkan aspek praktik umat Islam yang sangat memerlukan tenaga da’i yang memiliki kualifikasi akademik, agar kegiatan Dakwah Islam mampu mengantisipasi problem umat Islam dalam pembangunan nasional.

Fakulktas Dakwah lahir berdasarkan SK menteri agama no:256 tahun 1970.[50] Dengan SK ini kemudian Rektor IAIN Sunan Ampel waktu itu dijabat oleh bapak Prof TK. H. Ismail Ya’cub, SH, MA., segera membentuk panitia persiapan pembukaan, dengan ketuanya  Drs. H. Slahuddin Hardy dan sekretarisnya  Drs. L. Murtajik Sufri. Tugas kepanitian ini adalah mempersiapkan segalah sarana dan prasarana penerimaan mahasiswa, rekrutmen staf pengajar dan lainnya. Proses kelahirtan ini juga ditandai pila dengan adanya penandatanganan program oleh oleh Muspida Jawa Timur dan pejabat Deparetmn  Agama serta kurator dan dewan penyantun IAIN Sunan Ampel Surabaya, pada hari Sabtu Maret 1971.

Akhirnya pada tanggal 20 maraet 1971/22 muharram 1391 H, pembukaan Fakultas Dakwah dilangsungkan. Untuk tahun akademik perdana dengan jumlah mahasiswa sebanyak 48 orang (36 pria dan 12 wanita).

Seiring berjalanyan waktu Fakultas Dakwah berkembang dengan cepat. Kemudian pada tahun 1997 Fakultas Dakwah  berhasil membuka 4 jurusan yaitu KPI (Kmunikasi Penyiarab Islam), BPI (Bimbingan Penyiarab Islam), PMI (Pengembangan Masyarakat Islam), dan MD (Manajemen Dakwah). untuk mempersiapkan menjadi UIN (Universitas Islam Negeri) telah dibuka program studi umum pada tahun 2000, hingga sekarang.

Sejak dibukanya Fakultas Dakwah di Surabaya IAIN Sunan Ampel tahun 1971/1972 sampai dengan awal tahun 1976/1977, kegiatan perkuliahan dilaksanakan terpencar di berbagai ruangan Fakultas terdahuku yang ada  di Surabaya (Fakultas syari’ah, Adab dan Ushuludin). Sedang ruang kegiatan sekertariat dan ruang pimpinan bertempat dilantai dasar Fakultas ushuludin. Baru sejak pertengahan tahun 1976/1977 dapat menempati gedung baru yang terdiri dari sepuluh ruangan Administrasi / pim[inan dan satu ruang perpustakaan. Sarana dan prasaran Fakultas terus dikembangkan dari tahun ke tahun, hingga pada bulan Maret 1999 Fakultas Dakwah menempati gedung yang cukup megah denagntiga lantai yang lebih memadai untuk proses belajar mengajar dan mulai berbenah diri dengan harapan- baru untuk menghasilkan sarjana Dakwah yang bertkualitas. Karena semakin bertambahnya jujmlah mahasiswa Fakultas Dakwah dengan adanya program studi umum (komunikasi, sosiologi, dan psikologi), maka untuk memudahkan proses belajar mengajar, Fakultas Dakwah juga membangun satu gedung lagi lantai tiga yang digunakan sebagai proses belajar mengajar mahasiswa program studi umum.

Adapun komposisi pimpinan dari tahun ke tahun adalah sebagai berikut :

a.       Periode 1970 – 1972

Dekan                    : Drs. H. Salahuddin Hardy

PD I                       : Ust. H. Abd. Rochiem Noor

PAD II                   : Drs. H. Muhammad Hsb

PAD III                  : Drs. Hadji Ali Sholeh

b.      Periode 1972 – 1975

Dekan                    : Drs. H. Salahuddin Hardy

PD I                       : Drs. H. Abd. Jabbar Adlan

PD II                      : Drs. H. Muhammad Hsb

c.       Periode 1975 – 1979

Dekan                     : Ustd. H. Abd. Mudjib Manan

PD I                       : Drs. H. Abd. Jabbar Adlan

PAD II                    : Drs. H. Muhammad Hsb

PAD III                  : -

d.      Periode 1979 – 1993

Dekan                    : Drs. Bisri Affandi, MA.

PD I                       : Drs. H. Abd. Jabbar Adlan

PAD II                   : Drs. H. Muhammad Hsb

PAD III                  : -

e.       Periode 1983 – 1988

Dekan                    : Drs. H. Abd. Jabbar Adlan

PD I                       : Drs. H. Imam Sayuti Farid, SH

PAD II                   : Drs. H. Habibur Rahman

PAD III                  : Drs. Sapari Imam Asya’ari

f.        Periode 1988 – 1991

Dekan                    : Drs. H. Salahuddin Hardy

PD I                       : Drs. H. Imam Sayuti Farid, SH

PAD II                   : Drs. Sapari Imam Asya’ari

PAD III                  : Drs. AAI. Dalimunthe

g.       Periode 1991 – 1994

Dekan                    : Ustd. H. Abd. Mudjib Manan

PD I                       : Drs. H. Imam Sayuti Farid, SH

PAD II                   : Drs. H. Habibur Rahman

PAD III                  : Drs. AAI. Dalimunthe

h.       Periode 1994 – 1997

Dekan                    : Ustd. H. Abd. Mudjib Manan

PD I                       : Drs. Sahudi Siroj

PAD II                   : Drs. Mutholib Ilyas

PAD III                  : Drs. H. Imam Sayuti Farid, S

i.         Periode 1997 – 2001

Dekan                    : Drs. H. Imam Sayuti Farid, S

PD I                       : Drs. Sahudi Siroj

PAD II                   : Drs. Mutholib Ilyas

PAD III                  : Drs. Moh. Ali Aziz, M. Ag

j.        Periode 2001 – 2005

Dekan                    : Drs. Moh. Ali Aziz, M. Ag

PD I                      : Dra. Hj. St. Azizah Rahayu, M.Si

PAD II                  : Dra. Hj. Suhartini,  M.Si.

PAD III                 : Drs. H. Shonhaji Sholeh, Dip. Is

k.      Periode 2005 –

Dekan                    : Prof. Dr. H. Shonhaji Sholeh, Dip. Is

PD I                       : Dra. Sri Hastutik, M.Ag

PAD II                   : Dra. Hj. St. Azizah Rahayu, M.Si

PAD III                  : Drs. H. Sunarto, SH

            Dari tahun ke tahun Fakultas Dakwah berusaha untuk membenahi diri dalam era melenium ketiga ini. Dan untuk lebih memaksimalkan pencapaian kompetensi sesuai dengan peminatan jurusan. Kerjasama telah dan sedang dilakukan dengan instansi profesi antara lain RRI Surabaya dan beberapa radoi siaran swasta, TVRI, JTV, harisn pagi Jawa Pos, Radar Surabaya, Radar Mojokerto, Radar Bojonegoro, Tabloid Nurani, Harian Bangsa, Lembaga Dakwah (Rumah Sakit Islam Siti Hajar Sidoarjo, Bank Muamalat, Yayasan dana sosial Al Falah), Rumah Sakit Jiwa Menur, dan masyarakat bina. Sedangkan untuk pengabdian masyarakat telah dilakukan sejumlah kerjasama antara lain dengan Pemerintah Provensi Jawa Timur, Pemerintahan Kabupaten Gresik, Pasuruan, dan Situbomdo, Balai Pemberdayaan Kimpraswil Surabaya, Politeknik Kesehatan Surabaya, Pemerintah Kota Surabaya, HIMPSI Wilayah Jawa Timur, PTN dan PTS se Surabaya.

 

3.       Latar Belakang Mahasiswa

Mahsiswa atau mahasiswi yang dinyatakan lulus dalam penyarinagn tes ujian masuk IAIN Sunan Ampel Surabaya dan memenuhi persyaratan-persyaratan teretntu, berhak menjadi mahaiswa/mahasiswi Fakultas Dakwah. Terlepas apakah mereka mereka memiliki ijazah SMU, Aliyah atau pun MA Pondok. Yang terpenting mereka memenuhi persyaratan yang ditentukan, yakni antara lain :

a.       Memiliki ijazah negara SMU sederajat Aliyah negeri atau swasta

b.      Memenuhi persyaratan administrasi

c.       Mengikuti seleksi ujian masuk yang terdiri dari bahasa Arab, bahasa Inggris, pengetahuan agama Islam dan IPS. Disamping materi tulis, juga diharuskan  mengikuti materi lisan yakni kemampuan membaca Al-Qur'an. Mahasiswa yang diterima merupakan yang berminat dan mempunyai kemampuan untuk mengijuti ujian dan menyelesaikan pendidikan pada IAIN Sunan Ampel (khususnya Fakultas Dakwah) sesuai dengan prestasi dan batas waktu yang ditentukan.

Dari dokumentasi yang peneliti peroleh dari akademik Fakultas bahwa jumlah Mahasiswa Fakultas Dakwah saat ini  sebanyak 1060 mahasiswa, yang tersebar di semua jurusan.ini dapat dilihat dalam tabel berikut;

 

Jumlah Mahasiswa Fakultas Dakwah

IAIN Sunan Ampel Surabaya Semester Genap 2006-2007

Kelas

Jurusan

Semester

 

2

4

6

8

 

A

B

B1

B2

KPI

33

25

26

21

 

10

21

30

25

 

C

PMI

17

15

26

32

 

D

BPI

19

12

24

26

 

E

MD

20

26

33

30

 

F

SOS

20

12

26

23

 

G

G1

G2

H

H1

H2

KOM

28

 

 

 

28

28

 

18

15

16

23

 

 

 

19

14

29

 

 

29

 

I

J

J1

J2

PSI

28

 

28

26

33

31

30

29

33

23

 

Jumlah

 

275

229

276

280

1060

 

Dilihat dari asal daerahnya, mahasiswa Fakultas Dakwah  berasal dari daerah Jawa Timur, Jawa Tengah, Madura dan sebagian dari luar Jawa

 

B.     TRADISI KOMUNIKASI MAHASISWA MADURA

Manusia dalam kehidupannya sehari-hari tidak jarang bersinggungan dengan masalah-masalah ketradisian. Lebih dari itu manusia juga sebagai pengguna hasil-hasil tradisi baik yang berwujud tradisi non material, disadari atau tidak manusia akan melihat, menggunakan bahkan tidak jarang juga akan merusak hasil-hasil tradisinya sendiri, apabila diamati secara rinci masyarakat dan tradisi merupakan suatu keseluruhan dan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, karena antara satu dan yang lainnya saling berkaitan serta saling mempengaruhi. Dengan demikian karakteristik suatu masyarakat diidentikkan dengan tradisi yang mereka miliki. Pusat perhatian tradisi dan komunikasi terletak pada variasi langkah dan cara manusia berkomunikasi melintasi komunitas manusia atau kelompok sosial.

Pelintasan komunikasi ini menggunakan kode-kode pesan, baik secara verbal maupun nonverbal, yang secara alamiah selalu digunakan dalam konteks interaksi. Dalam hal ini juga meliputi bagaimana menjajaki makna, pola-pola tindakan dan bagaimana makna serta pola-pola itu di artikulasika dalam sebuah kelompok sosial, kelompok tradisi, kelompok politik, proses pendidikan bahkan lingkungan teknologi yang melibatkan interaksi antar manusia.

Bentuk-bentuk tradisi yang sering manusia gunakan dalam kehidupan sehari-hari diantaranya tercermin dalam budaya folk (budaya rakyat) maupun folklor. Folklor yang menjadi bentuk kebudayaan masyarakat adakalanya berbentuk folklor  lisan maupun bukan lisan. Salah satu  folklor lisan adalah bahasa rakyat. Dalam berkomunikasi masyarakat seringkali menggunakan bahasa sebagai alat untuk penyampaian pesan yang menyimpan beragam fungsi.

Tradisi komunikasi terbentuk dalam proses-proses interaksi dalam lingkungan tertentu, utamanya yang memiliki kesamaan bahasa, etnisitas dan budaya . Tradisi komunikasi dalam penelitian ini lebih dikontekskan pada pola interaksi yang terjadi pada mahasiswa Madura; meliputi mahasiswa Madura dengan mahasiswa Madura. Proses komunikasi yang dilakukan  mahasiswa Madura tersebut yang terjadi secara terus menerus akhirnya menjadi tradisi komunikasi yang khas Madura, baik dalam pemaknaannya, pola-pola tindakan dan penggunaan bahasa verbal dan non verbal dalam proses interaksi.

Secara kultural, mahasiswa Madura merupakan bagian integral dari masyarakat Jawa. Karenanya, memang tidak ada pembeda jelas antar mahasiswa Madura dengan orang Jawa lainnya, kecuali hanya masalah bahasa yang digunakan serta adat istiadat.

Sifat mahasiswa Madura pada dasarnya jujur dan sederhana. Hendrik, mahasiswa Fakultas Dakwah jurusan program studi ilmu komunikasi mengatakan bahwa mahasiswa Madura mempunyai hubungan yang sangat erat, walaupun mereka tidak kenal sebelumnya. Apabila bertemu dimanapun, asalkan tahu kalau dia berasal dari Madura, maka interaksi antara mereka akan terjalin dengan baik. Namun demikan, peneliti seringkali mengalami kesulitan untuk mendapatkan informasi banyak perihal segala sesuatu tentang  Madura, baik sejarah, tradisi maupun legenda  Madura. Hampir semua mahasiswa Madura yang ditanya berkaitan dengan kebiasaan  komunikasi yang mereka lakukan sehari-hari, selalu tidak memberikan  jawaban secara jelas, sistematis dan komprehensif. Selalu saja dijawab seadanya, santai dan cenderung bersahaja.

Mahasiswa Madura sangat menghormati leluhurnya.ini terlihat ketika mereka menceritakan tentang riwayat yang berhubungan dengan leluhurnya kepada peneliti ketika sedang berbincang-bincang santai sambil menikmati isapan rokok di salah satu kos-kosan mahasiswa Madura, bahwa “merupakan suatu kabahagiaan bagi mahasiswa Madura ketika sedang membahas leluhurnya, sebab seakan-akan mereka merasa menghormati kepada leluhurnya. Hal ini sudah menjadi tradisinya, sehingga kadang-kadang apabila ada pertanyaan yang mengarah terhadap leluhurnya mereka akan merasa bangga untuk menjawabnya dengan mengagungkan leluhurnya. Kenyataan seperti ini bukan karena kesombongan melainkan karena sebagai wujud dari penghormatan terhadap leluhurnya” tutur Imam Sayuti mahasiswa Fakultas Dakwah jurusan Pengembangan Msayarakat Isalam asal Sumenep.

Dalam berkomunikasi mahasiswa Madura sangat dipengaruhi oleh tradisi mereka yang sangat khas, mulai dari logat bahasa, cara mereka bertutur kata, menyampaikan pesan mereka yang ada dalam pikiran mereka sampai pada pengungkapan atau pengekspresian perasaan mereka. Menurut Iskandar bahwa mahasiswa Madura dalam pengungkapan perasaan dan pola pikir mereka akan suatu hal cenderung tidak pakai basa basi, langsung pada pembicaraan utama, hal ini dikarenakan mahasiswa Madura lebih menghargai waktu daripada kemasan pesan yang akan disampaikan”.

Ketika wawancara dengan Erliyanto mahasiswa Madura asal Pamekasan bahwa mahasiswa yang ada di Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel sebetulnya berasal dari beberapa daerah di Madura. Di mana daerah-daerah tersebut memiliki perbedaan bahasa, walaupun perbedaan tersebut tidak terlalu jauh. Tapi masyarakat Madura bisa memahami bahwa orang tersebut dari daerah Bangkalan, sumenep, sampang ataupun Pamekasan hanya dengan mendengarkan logat dan bahasa yang di pakai. Berikut beberapa contoh perbedaan bahasa Madura sesuai dengan daerah masing-masing, yaitu seperti :

Kata-kata “Be’na”, untuk daerah Sumenep, “Be’en” daerah pamekasan, "Kake” untuk daerah Sampang dan "Hedhe” untuk daerah Bangakalan, kata-kata tersebut sebetulnya mempunyai arti yang sama yaitu “Kamu".

Dengan perbedaan bahasa serta dialek itulah masyarakat Madura bisa mengenali orang atau teman yang diajak bicara tersebut berasal dari daerah mana. Walaupun dalam penggunaannya, tidak menutup kemungkinan orang Sumenep juga bisa menggunakan bahasanya orang Sampang demikian juga sebaliknya dan seterusnya. Akan tetapi bahasa serta dialek itulah yang menjadi ciri khas suatu daerah di Madura.

Akan tetapi perbedaan tersebut tidak kemudian memicu kesenjangan etnis atau daerah di antara para mahasiswa Madura. Bahkan perbedaan tersebut malah menambah erat hubungan emosional dan kekeluargaan masyarakat Madura yang berada di luar pulau. Sehingga banyak masyarakat atau mahasiswa Madura di Fakultas Dakwah yang bergabung dalam organisasi daerah seperti IKMAS (ikatan Mahasiswa Sumenep), IKAMABA (Ikatan Mahassiwa Bangkalan), dan eLMEN’S (Lingkar Mahasiswa Pamekasan Surabaya). Dengan organ-organ inilah komunitas mahasiswa Madura melakukan interaksi secara formalitas. Tapi rasa persaudaraan dan penghormatan di antara mereka tidak pernah hilang. Bahkan ada sebagian orang Madura yang beranggapan bahwa merupakan sebuah pantangan jika orang Madura harus konflik (carok) dengan sesama orang Madura di luar pulau Madura”.

Mahali, mahasiswa Madura asal Sumenep mengatakan bahwa “Mahasiswa Madura dalam melakukan komunikasi antara sesama tidak terlalu berbelit-belit dan cendrung blak-blakan, baik mereka yang komunikasi yang dilakukan antar sesama daerah atau pun dengan daerah lain. dan logat Maduranya sangat kental. Akan tetapi jika mereka berkomunikasi dengan masyarakat Jawa (luar Madura) tidak sedikit dari mahasiswa Madura  yang mengusai dan memahami bahasa Jawa, walaupun bahasa Jawa yang mereka pakai masih sangat kasar, dan logat keMaduraannya tampak jelas. Mereka biasanya menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi dengan masyarakat luar Madura. Dan logat Maduranya pun terdengar tampak jelas dalam intonasi dan pengucapan serta rangkaian kalimatnya yang cenderung menggunakan kalimat-kalimat pasif”.

Pada saat peneliti menyapa mahasiswa Madura yang biasa dipanggil Zubaidah, mahasiswa Fakultas Dakwah jurusan Komunikasi Penyiaran Islam semester II asal Sampang, dengan wajah lelah dia   tetap saja ramah dalam menjawab sapaan peneliti, dan tak lupa mereka hiasi jawaban itu dengan penuh senyuman.

Dalam masyarakat Madura mereka selalu memandang semua orang sama dan satu keturunan.,ucap Erliyanto, mahasiswa Fakultas Dakwah jurusan Pengembangan Masyarakat Islam semester VI. Dia juga mengatakan bahwa semua mahasiswa Madura memiliki derajat yang sama serta tidak ada perlakuan berbeda satu sama lainnya, kecuali dalam urusan agama atau ritual,mereka sangat menghargai kehidupan pribadi orang lain, dimana mahasiswa Madura  dalam aktivitas sosial diperlakukan sama. Realitas ini dapat dilihat dalam keterlibatan semua mahasiswa Madura dalam organisasi-organisasi intra dan ekstra kampus.

 

 

 

 

 

C.     SIMBOL-SIMBOL KOMUNIKASI MAHASISWA MADURA

Salah satu kebutuhan pokok manusia, seperti dikatakan Susanne K Langer, adalah kebutuhan simbolisasi atau penggunaan lambang[51]. Dan salah satu sifat dasar manusia adalah kemampuan menggunakan simbol-simbol serta menciptakan simbol-simbolnya juga, hal ini membuktikan bahwa manusia sudah memiliki tradisi yang tinggi dalam berkomunikasi, mulai dari simbol yang sederhanan  seperti bunyi dan isyarat, sampai kepada simbol yang dimodifikasi dalam bentuk signal-signal melalui gelombang udara dan cahaya.

Kemampuan tersebut, sebagian orang mungkin menyebutnya keharusan, untuk mengubah data mentah hasil pengalaman indra menjadi simbol-simbol, kita juga dapat menggunakan simbol-simbol untuk menunjuk kepada simbol lain (seperti konsepsi tujuan, nilai, cita) dan untuk mewariskan pengetahuan dan wawasan yang terpendam dari generasi ke generasi. Daya simbolisasi ini, menurut Wieman dan Walter, bertanggung jawab atas kejadian dan kelangsungan pertumbuhan kepribadian manusia dan atas pekerjaan-pekerjaan kreatif umat manusia.[52]

Sementara sarjana kontemporer sependapat dengan Wieman dan Walter bahwa kemampuan menggunakan simbol  adalah ciri unik manusia. Suzanne Langer, misalnya, berpendapat, ”simbolisme merupakan kunci kehidupan mental khas manusia dan melebihi tingkatan hewani belaka.” Ia yakin bahwa “kebutuhan dasar akan simbolisasi, yang mungkin tidak dimiliki makhluk lain,” jelas pada manusia, berfungsi secara kontinue dan merupakan proses fundamental pikiran manusia. [53]

Sebagai pengguna dan penafsir simbol manusia terkadang irasional dengan  menganggap seolah-olah ada kemestian atau ada hubungan alamiah antara suatu simbol dengan apa yang disimbolkan.buktinya masih ada orang yang menanam kepala kerbau sebelum membangun sebuah gedung, konon demi keselamatan gedung itu. Ada lagi sebagian orang yang masih percaya adanya hari baik atau hari buruk untuk membuat sebuah keputusan penting atau melakukan suatu perjalanan.

Simbol komunikasi sangatlah dipengaruhi oleh tradisi masyarakat dimana ia tinggal. Semua simbol baik yang berupa kata-kata yang terucapkan, sebuah objek seperti kepulan asap, suatu gerakan tubuh, sebuah tempat atau sebuah peristiwa, merupakan bagian-bagian suatu sistem simbol. Simbol adalah objek  atau peristiwa apa pun yang menunjuk pada sesuatu.simbol itu meliputi apapun yang dapat kita rasakan atau kita alami.

Sedemikian tidak terpisahkannya hubungan antara manusia dengan budaya, sampai ia disebut makhluk budaya. Tradisi sendiri terdiri atas gagasan-gagasan, simbol-simbol dan nilai-nilai sebagai hasil karya dari tindakan manusia, sehingga tidaklah berlebihan jika ada ungkapan, “begitu eratnya tradisi manusia dengan simbol-simbol, sampai manusia pun disebut makhluk dengan simbol-simbol.manusia berfikir, berperasaan dan bersikap dengan ungkapan-ungkapan yang simbolis.

Dalam perspektif demikian, maka simbol-simbol komunikasi yang terdapat dalam mahasiswa Madura terlihat dari cara mereka merepresentasikan diri dalam proses-proses komunikasi sehari-hari. Sebagaimana disebutkan diatas, mahasiswa Madura mempunyai kesan bersahaja serta berwibawa. Kesan tersebut tampak mengemuka ketika mahasiswa  Madura memberikan simbol-simbol tertentu untuk mengkomunikasikan diri. Contohnya dalam mengkomunikasikan kemarahannya. manusia  berkata-kata keras, menantang, atau mungkin lebih bersikap emosional. Kondisi ini sama  dengan apa yang dilakukan oleh Mahasiswa Madura ketika mereka sedang marah, raup wajahnya kelihatan memerah saat mereka marah, ini merupakan wujud kemarahannya.

Mahasiswa Madura sangat mengharhagai kehormatan dan harga diri, ketika kehormatan dan harga diri mereka diganggu, mereka akan sangat marah, kemudian mereka cenderung bersikap konfrontatif. Sebagaimana orang Madura pada umumnya, sikap konfrontatif sudah menjadi watak bagi mahasiswa Madura yang saat ini menempuh pendidikan di Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel surabaya. Hal ini juga berpegangan dengan pedoman hidup mahasiswa Madura, baik yang berupa mitos; legenda; dongeng atau apapun namanya oleh masyarakat lain menyebutnya. Tetapi justru mitos sebagai pedoman hidup melembaga dalam diri mahasiswa Madura. Bukan dalam artian pembenaran fakta akan berbagai bentuk mitos yang ada, melainkan memberikan satu pemaknaan tentang hakikat kebenaran dan kebaikan dari ajaran tersebut.

  1. Simbol verbal yang digunakan dalam proses komunikasi

Dalam hal ini simbol komunikasi verbal yang mereka gunakan dalam proses komunikasi di lingkunga Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel surabaya adalah bahasa Madura, yakni bahasa Madura  yang biasa mereka gunakan sehari-hari dalam berinteraksi dengan sesama mahasiswa Madura. Itulah sebabnya, mahasiswa Madura menggunakan bahasa dialek  Madura, bahasa dialek  Madura jika diperhatikan secara serius ada yang agak mirip dengan dialeg logat Jawa.  Hanya ada istilah-istilah tertentu yang agak berbeda dengan bahasa jawa pada umumnya, seperti: ketika ketemu dengan temanya, mereka menyapa dengan “Beremma kabereh, beres…..?” yang dalam bahasa Indonesia mempunyai arti “bagaimana kabarnya, baik.,.? dan apabila sudah lama tidak ketemu dan kemudian ketemu dengan temanya mereka mengucapkan dengan “De’emma bhei be’na, ma’abid ta’ e katale” yang berarti “kemana aja kamu kok lama tidak kelihatan, ”uang mereka sebut dengan ”pese”, saat melewati jalan sebuah perkampungan dimana di depan atau disamping ada orang yang lebih tua atau yang dihormati sedang duduk-duduk dibawah atau bergerombol/berbincang-bincang mereka akan mngucapkan “Ghelenun”, dimana apabila dalam bahasa Indonesia kita kenal dengan kata “permisi”, sedangkan dalam bahasa Jawa pada umumnya  istilah tersebut lebih kita kenal dengan  istilah “nyuwun sewu,”. Istilah lain yang berbeda yakni ayo’ toju’ ghellu,” yang artinya menyilahkan masuk orang untuk masuk ke dalam rumah, kemudian mempersilakan duduk yang pada bahasa Jawa secara umumnya adalah kata “monggo” atau “Monggo pinarak” , semua ungkapan diatas sering peneliti jumpai ketika peneliti berinteraksi dengan mereka (mahasiswa asal Madura).

Masih banyak lagi istilah-istilah yang tidak bisa peneliti sebutkan semuanya. Seperti; ketika mereka melakukan kesalahan terhadap orang lain mereka akan meminta maaf dengan menggunakan “saporanah” itu berarti pengungkapan maaf, dan waktu mendapatkan pertolongan dari orang lain, mereka akan mengucapkan “sakalangkong” yang berarti “terimah kasih” dalam bahasa Indonesia. Disamping komunikasi yang mereka lakaukan terlihat kasar, penuh emosional akan tetapi maksud yang disampaikan sebenarnya sangat baik dan penuh kesopanan.

 

  1. Simbol Nonverbal yang digunakan dalam proses komunikasi

Sedangkan Simbol Nonverbal yang digunakan dalam proses komunikasi oleh mahasiswa Madura, kata Hendrik mahasiswa Fakultas Dakwah  jurusan komuniukasi semester II bahwa kalau mata mereka sudah merah itu tandanya marah berat (sangat marah). Maka dari itu, di Madura ada istilah “katembeng mera mata lebbi begus mera dara ”yang beratri “dari pada merah mata lebih baik merah darah itu merupakan ungkapan orang Madura ketika tersinggung kehormatan dan harga dirinya. Ini menunjukan bahwa orang-orang Madura mayoritas ikatan emosionalnya kuat, dan begitu juga sangat tinggi dalam menghargai orang lain maupun sesama orang Madura. Sehingga ketika ada orang lain yang mengganggu martabat atau kehortmatannya, mereka tidak segan-segan bertindak konfrontatif, bahkan sampai pada tindakan menghabisi nyawa, yang bisa terkenal dengan istilah carok. ini merupakan salah satu bentuk simbol nonverbal orang-orang Madura.

Tentang tradisi carok sebagai simbol nonverbal masyarakat Madura. Erliyanto, mahasiswa Fakultas Dakwah asal Pamekasan Madura  mengataka bahwa tradisi carok sebagai smbol memiliki makna bahwa mereka mempunyai harga diri yang tinggi serta penghormatan yang tinggi terhadap hak milik mereka termasuk juga isteri. maka, jika kehormatan mereka atau harga diri mereka dihina, maka orang Madura tidak segan-segan untuk menantang carok terhadap pihak yang menghinanya. Karena pada prinsipnya orang Madura sering mengungkapkan “katembheng pote mata, bengo’an pote tolang” yang artinya ketimbang putih mata, mendingan putih tulang aja. Ungkapan itu sebetulnya memiliki makna bahwa orang Madura itu lebih memilih mati karena mempertahankan kehormatannya, ketimbang mereka harus hidup dengan menahan rasa malu.

Ungkapan itu sebetulnya sudah menjadi prinsip orang-orang Madura dimanapun mereka hidup. Akan tetapi orang Madura memilki rasa tanggung jawab dan keberanian tinggi. Serta sangat menghargai kejujuran dan suka memaafkan kesalahan orang, jika orang yang berbuat salah tersebut secara terang-terangan mengakui kesalahnnya dan meminta maaf.

Orang Madura walaupun memilikii tradisi carok sebagai symbol harga diri mereka yang tinggi, bukan berarti mereka tidak bisa menyelesaikan masalah secara damai, melalui musyawarah atau pun kesepakatan bersama. Tradisi carok biasanya terjadi pada kasus-kasus yang menyangkut harga diri dan penhinaan yang besar terhadap orang Madura. Akan tetapi jika orang yang menghina tersebut mengakui dan meminta maaf terhadap orang yang dihina, maka carok tidak akan terjadi. dan masalah tersebut bisa diselesaikan secara damai dan tanpa dendam. Akan tetapi kesalah tersebut tidak boleh diulang lagi. Karena kalau kesalahan yang sama diulang oleh orang yang sama maka, carok tidak bisa dihindarkan lagi. Karena mereka merasa dipermainkan.

Masih ungkap Erliyanto, mahasiswa Fakultas Dakwah jurusan Pengembangan Masyarakat Islam semester VI ”Suatu analogi yang biasanya dipakai oleh mahasiswa Madura di Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel tentang tradisi carok yang terkenal dipulau Madura, sehingga Madura dikenal dengan watak yang keras dan sadis, adalah bahwa mereka sering mengatakan Madura berasal dari kata Madu dan Darah. Yang mana kata-kata Madu  adalah sebagai symbol dari rasa manis dan kental. Sedangkan darah adalah symbol dari keberanian mereka dalam menjaga dan memperjuangkan kehormatan yang tinggi. Jadi arti Madura atau Madu dan Darah sering dianalogikan bahwa jika orang Madura di halusi mereka bisa lebih halus bahkan bisa lebih manis dari madu, akan tetapi jika mereka dikasari mereka bisa lebih kasar dan bahkan mengeluarkan darah. Hal inilah yang kemudian jadi prinsip orang Madura jika hidup di luar pulau Madura. Mereka bisa lebih baik daripada orang yang baik padanya dan orang Madura bisa lebih jahat ketimbang orang yang jahat pada mereka.

Kebiasaan mahasisawa asal Madura terlihat ketika sedang berjalan diantara oarang yang bergerombol mereka selalu menundukan kepala, apalagi ketika berhadapan dengan orang tua mereka selalu menghormatinya, ini terlihat ketika bersama-sama berada di ruang tamu mereka mempersilakan yang lebih tua duduk di tempat yang lebih bagus daripada dirinya, ini peneliti alami waktu peneliti bertamu di salah satu rumah kos dan disitu ada orang tua salah satu mahsiswa madura yang sedang menjenguk anaknya.


BAB V

 

ANALISIS DATA

 

A.     HASIL TEMUAN PENELITIAN

  1. Tradisi Komuniukasi Mahasiswa Madura

Dalam berkomunikasi mahasiswa Madura sangat dipengaruhi oleh tradisi mereka yang sangat khas, mulai dari logat bahasa, cara mereka bertutur kata, menyampaikan pesan mereka yang ada dalam pikiran mereka sampai pada pengungkapan atau pengekspresian perasaan mereka. Seringkali mahasiswa Madura dalam pengungkapan perasaan dan pola pikir mereka akan suatu hal cenderung tidak pakai basa basi, langsung pada pembicaraan utama, hal ini dikarenakan mahasiswa Madura lebih menghargai waktu daripada kemasan pesan yang akan disampaikan. Masyarakat Madura, dalam hal ini mahasiswa Madura, tidak perlu merangkai kata-kata yang indah, yang enak di dengar, mereka lebih mengutamakan inti pesan, agar pesan tersebut bisa dengan mudah dipahami oleh lawan bicaranya.

86

Mahasiswa yang ada di Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel sebetulnya berasal dari beberapa daerah di Madura. Di mana daerah-daerah tersebut memiliki perbedaan bahasa, walaupun perbedaan tersebut tidak terlalu jauh. Tapi masyarakat Madura bisa memahami bahwa orang tersebut dari daerah Bangkalan, sumenep, sampang atau pun Pamekasan hanya dengan mendengarkan logat dan bahasa yang di pakai. Berikut beberapa contoh perbedaan bahasa Madura sesuai dengan daerah masing-masing, yaitu seperti :

 

Kata-kata “Be’na”, untuk daerah Sumenep, “Be’en” daerah pamekasan, Kake” untuk daerah Sampang dan Hedhe” untuk daerah Bangakalan, kata-kata tersebut sebetulnya mempunyai arti yang sama yaitu “Kamu.

Dengan perbedaan bahasa serta dialek itulah masyarakat Madura bisa mengenali orang atau teman yang diajak bicara tersebut berasal dari daerah mana. Walaupun dalam penggunaannya, tidak menutup kemungkinan orang Sumenep juga bisa menggunakan bahasanya orang Sampang demikian juga sebaliknya dan seterusnya. Akan tetapi bahasa serta dialek itulah yang menjadi ciri khas suatu daerah di Madura.

Akan tetapi perbedaan tersebut tidak kemudian memicu kesenjangan etnis atau daerah di antara para mahasiswa Madura. Bahkan perbedaan tersebut malah menambah erat hubungan emosional dan kekeluargaan masyarakat Madura yang berada di luar pulau. Sehingga banyak masyarakat atau mahasiswa Madura di Fakultas Dakwah yang bergabung dalam organisasi daerah seperti IKMAS (ikatan Mahasiswa Sumenep), IKAMABA (Ikatan Mahassiwa Bangkalan), dan eLMEN’S (Lingkar Mahasiswa Pamekasan Surabaya). Dengan organ-organ inilah komunitas mahasiswa Madura melakukan interaksi secara formalitas. Tapi rasa persaudaraan dan penghormatan di antara mereka tidak pernah hilang. Bahkan ada sebagian orang Madura yang beranggapan bahwa merupakan sebuah pantangan jika orang Madura harus konflik (carok) dengan sesama orang Madura di luar pulau Madura.

Mahasiswa Madura dalam melakukan komunikasi antara sesama tidak terlalu berbelit-belit dan cendrung blak-blakan, baik mereka yang komunikasi yang dilakukan antar sesama daerah atau pun dengan daerah lain. dan logat Maduranya sangat kental. Akan tetapi jika mereka berkomunikasi dengan masyarakat Jawa (luar Madura) tidak sedikit dari mahasiswa Madura  yang mengusai dan memahami bahasa Jawa, walaupun bahasa Jawa yang mereka pakai masih sangat kasar, dan logat keMaduraannya tampak jelas. Hal ini biasanya dilakukan oleh mahasiswa yang sudah lama atau minimal 1 tahun di surabaya. Sedangkan mereka yang tidak pernah tau bahasa Jawa atau mereka yang masih baru. Mereka biasanya menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi dengan masyarakat luar Madura. Dan logat Maduranya pun terdengar tampak jelas dalam intonasi dan pengucapan serta rangkaian kalimatnya yang cenderung menggunakan kalimat-kalimat pasif.

Dalam masyarakat Madura mereka selalu memandang semua orang sama dan satu keturunan. Sehingga mereka sangat menghargai orang lain, Menariknya kultur ini terbangun secara terbuka, tidak basa-basi serta tidak formal.

Semua mahasiswa Madura memiliki derajat yang sama serta tidak ada perlakuan berbeda satu sama lainnya, kecuali dalam urusan agama atau ritual,mereka sangat menghargai kehidupan pribadi orang lain, dimana mahasiswa Madura  dalam aktivitas sosial diperlakukan sama, tidak ada tradisi memerintah, sehingga terjalin proses interaksi yang sangat baik di antara mereka.

Realitas ini dibuktikan dengan keterlibatan semua mahasiswa Madura dalam organisasi-organisasi intra dan ekstra kampus. Interaksi yang terjadi antara mereka menjadi sangat harmonis antara anggota organisasi karena mereka mempunyai latar belakang yang sama. ini terbukti dengan bahasa yang mereka gunakan dalam berkomuniaksi, makna yang disampaikan bisa ditangkap dan dipahami oleh yang lainnya.

Dengan demikian, penggunaan bahasa Madura sebagai proses komunikasi dalam berinteraksi antara mahasiswa Madura berjalan dengan baik, karena mereka mempunyai latar belakang dan kebiasaan yang sama.

 

  1. Simbol Verbal Yang Digunakan Dalam Proses Komunikasi

Dalam hal ini simbol komunikasi verbal yang mereka gunakan dalam proses komunikasi di lingkunga Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel surabaya adalah bahasa Madura, yakni bahasa dialek Madura  yang biasa mereka gunakan sehari-hari dalam berinteraksi dengan sesama mahasiswa Madura. kebiasaan itulah yang membuat mereka merasa bangga dan tidak merasa malu memakai bahasa Madura. Ada istilah-istilah yang biasa mereka gunakan dalam komunikasi, seperti: ketika ketemu dengan temanya, mereka menyapa dengan “Beremma kabereh, beres…..?” yang dalam bahasa Indonesia mempunyai arti “bagaimana kabarnya, baik.,.? dan apabila sudah lama tidak ketemu dan kemudian ketemu dengan temanya mereka mengucapkan dengan “De’emma bhei be’na, ma’abid ta’ e katale” yang berarti “kemana aja kamu kok lama tidak kelihatan”, uang mereka sebut dengan ”pese”, saat melewati jalan sebuah perkampungan dimana di depan atau disamping ada orang yang lebih tua atau yang dihormati sedang duduk-duduk dibawah atau bergerombol/berbincang-bincang mereka akan mngucapkan “Ghelenun”, dimana apabila dalam bahasa Indonesia kita kenal dengan kata “permisi”, sedangkan dalam bahasa Jawa pada umumnya  istilah tersebut lebih kita kenal dengan  istilah “nyuwun sewu,”. Istilah lain yang berbeda yakni ayo’ toju’ ghellu,” yang artinya menyilahkan masuk orang untuk masuk ke dalam rumah, kemudian mempersilakan duduk yang pada bahasa Jawa secara umumnya adalah kata “monggo” atau “Monggo pinarak.”

Masih banyak lagi istilah-istilah yang tidak bisa peneliti sebutkan semuanya. Seperti; ketika mereka melakukan kesalahan terhadap orang lain mereka akan meminta maaf dengan menggunakan “saporanah” itu berarti pengungkapan maaf, dan waktu mendapatkan pertolongan dari orang lain, mereka akan mengucapkan “sakalangkong” yang berarti “terimah kasih” dalam bahasa Indonesia.

 

  1. Simbol Nonverbal yang Digunakan Dalam Proses Komunikasi

Sedangkan Simbol Nonverbal yang digunakan dalam proses komunikasi oleh mahasiswa Madura, adalah banyak terdapat dalam ungkapan-ungkapan, seperti;  bahwa kalau mata mereka sudah merah itu tandanya marah berat (sangat marah). Maka dari itu, di Madura ada istilah “katembeng mera mata lebbi begus mera dara ”yang beratri “dari pada merah mata lebih baik merah darah itu merupakan ungkapan orang Madura ketika tersinggung kehormatan dan harga dirinya. Ini menunjukan bahwa orang-orang Madura mayoritas ikatan emosionalnya kuat, dan begitu juga sangat tinggi dalam menghargai orang lain maupun sesama orang Madura. Sehingga ketika ada orang lain yang mengganggu martabat atau kehortmatannya, mereka tidak segan-segan bertindak konfrontatif, bahkan sampai pada tindakan menghabisi nyawa, yang bisa terkenal dengan istilah carok. ini merupakan salah satu bentuk simbol nonverbal orang-orang Madura.

Salah satu ciri khas orang Madura biasanya tidak suka berdebat atau bertengkar mulut. Ketika mereka mempunyai konflik atau masalah dengan orang lain orang Madura lebih suka cara lelaki yaitu carok dengan cara satu lawan satu. Hal ini berbeda dengan kebiasaan orang Jawa yang biasanya menyelesaikan masalahnya dengan cara perkelahian massa atau tawuran.

Akan tetapi dalam hal carok sebagai symbol bahwa mereka mempunyai harga diri yang tinggi serta penghormatan yang tinggi terhadap hak milik mereka termasuk juga isteri. maka, jika kehormatan mereka atau harga diri mereka dihina, maka orang Madura tidak segan-segan untuk menantang carok terhadap pihak yang menghinanya. Karena pada prinsipnya orang Madura sering mengungkapkan “katembheng pote mata, bengo’an pote tolang” yang artinya ketimbang putih mata, mendingan putih tulang aja. Ungkapan itu sebetulnya memiliki makna bahwa orang Madura itu lebih memilih mati karena mempertahankan kehormatannya, ketimbang mereka harus hidup dengan menahan rasa malu.

Ungkapan itu sebetulnya sudah menjadi prinsip orang-orang Madura dimanapun mereka hidup. Akan tetapi orang Madura memilki rasa tanggung jawab dan keberanian tinggi. Serta sangat menghargai kejujuran dan suka memaafkan kesalahan orang, jika orang yang berbuat salah tersebut secara terang-terangan mengakui kesalahnnya dan meminta maaf.

Orang Madura walaupun memilikii tradisi carok sebagai symbol harga diri mereka yang tinggi, bukan berarti mereka tidak bisa menyelesaikan masalah secara damai, melalui musyawarah atau pun kesepakatan bersama. Tradisi carok biasanya terjadi pada kasus-kasus yang menyangkut harga diri dan penhinaan yang besar terhadap orang Madura. Akan tetapi jika orang yang menhina tersebut mengakui dan meminta maaf terhadap orang yang dihina, maka carok tidak akan terjadi. dan masalah tersebut bisa diselesaikan secara damai dan tanpa dendam. Akan tetapi kesalah tersebut tidak boleh diulang lagi. Karena kalau kesalahan yang sama diulang oleh orang yang sama maka, carok tidak bisa dihindarkan lagi. Karena mereka merasa dipermainkan.

Suatu analogi yang biasanya dipakai oleh mahasiswa Madura di Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel tentang tradisi carok yang terkenal dipulau Madura, sehingga Madura dikenal dengan watak yang keras dan sadis, adalah bahwa mereka sering mengatakan Madura berasal dari kata Madu dan Darah. Yang mana kata-kata Madu  adalah sebagai symbol dari rasa manis dan kental. Sedangkan darah adalah symbol dari keberanian mereka dalam menjaga dan memperjuangkan kehormatan yang tinggi. Jadi arti Madura atau Madu dan Darah sering dianalogikan bahwa jika orang Madura di halusi mereka bisa lebih halus bahkan bisa lebih manis dari madu, akan tetapi jika mereka dikasari mereka bisa lebih kasar dan bahkan mengeluarkan darah. Hal inilah yang kemudian jadi prinsip orang Madura jika hidup di luar pulau Madura. Mereka bisa lebih baik daripada orang yang baik padanya dan orang Madura bisa lebih jahat ketimbang orang yang jahat pada mereka.

B.     KONFIRMASI TEMUAN DENGAN TEORI

Tradisi komunikasi mahasiswa Madura sebagaimana yang ditemukan dalam penelitian ini adalah tradisi komunikasi yang lebih mengarah pada tradisi komunikasi yang lebih terbuka, dimana penyampaian pesan dalam komuniukasi dilakukan secara langsung, balak-blakkan, keras dan penuh emosional bahkan dengan nada tinggi. Adanya perbedaan logat atau dialek antara mahasiswa yang berasal dari Sumenep, Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan tidak menjadikan proses komunikasi pasif, karena miskipun demikian mereka bisa memahami dan mengerti dialek-dialek maupun logat-logat Madura. dan itu sudah menjadi suatu ciri khas bahasa dan dialek masyarakat daerah Madura. hal ini sesuai dengan apa yang dikemukan oleh Herbert Blummer bahwa esensi dari teori interaksi simbolik adalah suatu aktivitas yang merupakan ciri khas manusia, yakni komunikasi atau pertukaran symbol yang diberi makna Blumer mengkonseptualisasikan manusia sebagai pencipta atau pembentuk kembali lingkunganya, sebagai perancang dunia obyeknya dalam aliran tindakanya, alih-alih sekedar merespon pengharapan kelompok.

Bahasa Madura sebagaimana bahasa-bahasa lain merupakan identitas yang menunjukan karakter dan sifat manusianya, salah satu hal yang menonjol yang dapat kami temukan dalam penelitian ini bahwa orang Madura mempunyai karakter sangat keras dan penuh emosional serta membanggakan bahasa sendiri. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Herbert Blummer bahwa manusia dalam pertukaran simbol lebih menekankan pada sisi emosionalitas. Dimana karakter-karakter itu merupakan sebuah bentuk mempromosikan bahasa Madura di kalangan luar mereka, selain itu hal ini dilakukan untuk lebih mengakrabkan diri dengan pergaulan yang juga banyak berdomisili mhasiswa Madura.

Dari temuan di atas maka dapat dikatakan bahwa teradisi komunikasi mahasiswa Madura lebih menonjolkan bahasa verbal yang digunakan dalam berinteraksi dengan sesamanya. Pernyataan-pernyataan verbal bisa berbeda di setiap daerah di Madura. Walaupun perbedaan tersebut tidak terlalu jauh. Tapi masyarakat Madura bisa memahami bahwa orang tersebut dari daerah Bangkalan, sumenep, sampang atau pun Pamekasan hanya dengan mendengarkan logat dan bahasa yang di pakai. Berikut beberapa contoh perbedaan bahasa Madura sesuai dengan daerah masing-masing, yaitu seperti :

Kata-kata “Be’na”, untuk daerah Sumenep, “Be’en” daerah pamekasan, Kake” untuk daerah Sampang dan Hedhe” untuk daerah Bangakalan, kata-kata tersebut sebetulnya mempunyai arti yang sama yaitu “Kamu.

Mahasiswa Madura sebagai komunitas masyarakat, lebih banyak menggunakan bahasa verbal dalam melakukan komunikasi dengan yang lain. hal ini disebabkan karena tradisi komunikasi yang mereka lakukan dalam interaksi sehari-hari adalah tradisi  komunikasi yang terkenal keras, terbuka, dan penuh emaosional. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Herbert Blummer bahwa manusia dalam pertukaran simbol lebih menekankan pada sisi emosionalitas. Bahasa Madura sebagaimana bahasa-bahasa yang lain merupakan identitas yang menunjukkan karakter dan sifat manusianya. Salah satu hal yang menonjol yang dapat kami temukan dalam penelitian ini bahwa orang Madura mempunyai karakter yang sangat keras, penuh emosional, terbuka, dan suka membanggakan bahasa sendiri.


BAB VI

 

PENUTUP

 

A.     Kesimpulan

Setelah peneliti melakukan penelitian tentang tradisi komuniaksi mahasiswa Madura  di Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya. Maka peneliti dapat menarik kesimpulan sebagai berikut :

1.      Tradisi komunikasi mahasiswa Madura adalah tradisi komunikasi yang lebih mengarah pada tradisi komunikasi yang lebih terbuka, dimana penyampaian pesan dalam komuniukasi dilakukan secara langsung, balak-blakkan dan penuh emosionalitas bahkan dengan nada tinggi. Adanya perbedaan logat atau dialek antara mahasiswa yang berasal dari sumenep, Pamekasan, sampang, dan Bangkalan tidak menjadikan proses komunikasi pasif, karena miskipun demikian mereka bisa memahami dan mengerti dialek-dialek maupun logat-logat Madura. dan itu sudah menjadi suatu ciri khas bahasa dan dialek masyarakat daerah Madura.

2.      Simbol-simbol komunikasi yang digunakan dalam ineteraksi sehari-hari adalah pengunaan bahasa verbal dan bahasa non verbal.akan tetapi dalam berinteraksi mereka lebih banyak mengunaakan bahasa verbal dari pada bahasa non verbal. Ini terlihat lebih dominanya pengunaan bahasa- bahasa lisan yang muncul dari pembicaraan yang mereka lakukan.

 

96

 

B.     Saran-saran

1.      Hendaknya hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangsi terhadap pengembangn ilmu komunikasi, khususnya komunikasi antar budaya. Serta diharapkan dapat memperkaya kajian budaya mahasiswa Madura khususnya masyarakat Madura. Serta untuk membantu masyarakat demi menghindari kesalahpahaman persepsi dari sebuah pesan yang disampaikan komunikan yang berbeda budaya atau bahkan sama kita.

2.      Sedangkan bagi mahasiswa Madura atau pun masyarakat Madura hendaknya dibuat suatu rumusan  bersama untuk pengembangan tradisi masyarakat Madura yang akan datang. Sehingga akan memunculkan tradisi-tradisi masyarakat yang lebih baik.

3.      Pemahaman terhadap budaya-budaya yang berbeda akan menambah pengetahuan dan pengalaman serta membuat hubungan atau interaksi sosial dengan orang menjadi lebih baik.

4.      Perlunya melestarikan tradisi masyarakat untuk memfungsikanya dalam melakukan interaksi sosial sehari-hari dan juga untk memperkaya kajian-kajian budaya khususnya komunikasi antar budaya.

 

 



[1] Onong Uchyana, Dinamika Komunikasi (Bandung, PT. Remaja Rosda Karya :1993)

[2] Deddy Mulyana dkk, Komunikasi Antar Pribadi (Bandung, PT. Remaja Rosda Karya:1990) hal 15

[3] James Lull, Media Komuniaksi Dan Ketradisian (Jakarta, Yayasan Obor Indonesia:1998)hal. 77

[4] Ibid

[5] Cholid Narbuko & Abu Achmadi, Metodologi Penelitian (Jakarta, Bumi Akasara :1997) hal 140

[6] James Lull, Media, Komunikasi dan Kebudayaan (Jakarta, Yayasan Obor Indonesia : 1998)  hal. 77

[7] Ibid, hal 77

[8] Deddy Mulyana dan Jalaluddin Rahmat, Komunikasi Antarbudaya (Bandung, Remaja Rosda Karya :1993) hal 19

[9] Ibid hal 20

[10] Alo Liliweri, Gatra – gatra Komunikasi Antar Budaya  (Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2001) hal 114

[11] Ibid hal 129

[12] Kuntowujoyo, Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris Madura, Mata Bangsa,2002. hal.60

[13] Ibid. hal.61

[14] Ibid hal 128

[15] Kuntowujoyo, Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris Madura, Mata Bangsa,2002. hal.62

[16] Onong Uchjana Effendy, Ilmu komunikasi teori dan praktek (Bandung, Remaja Rosda Karya : 2001)  hal 11

[17] Ibid hal 11

[18] Alo Liliweri, Gatra – Gatra Komunikasi Antarbudaya  (Yogyakarta, Pustaka Pelajar: 2001) hal 162

[19] Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi  ( Jakarta, PT Raja Grafindo Persada : 1998) hal 101

[20]  Ibid hal 102

[21] Onong Uchjana Efendy, Opcit hal 12

[22] Ibid hal 15

[23] Turnomo Raharjo,Menghargai Perbedaan Kultural,Pustaka Pelajar,2005,hal. 51

[24] Alo Liliweri Gatra – Gatra Komunikasi Antarbudaya  (Yogyakarta,pustaka pelajar: 2001)  hal 20

[25] Ibid hal 27

[26]  Ibid hal 10

[27] Alex Sobur, Semiotika Komunikasi (Bandung, Remaja Rosdakarya : 2004) hal. 194

[28] Arthur Asa Berger, Tanda-tanda dalam Kebudayaan  Kontemporer, terjemahan oleh M. Dwi Mariyanto, Sunarto, (Jogyakarta, Tiara Wacana Yogja: 2000) hal. 14

    [29] Alex Sobur, Semiotika Komunikasi (Bandung, Remaja Rosdakarya : 2004) hal. 199

[30] M. Iqbal Hasan, Pokok-pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya, Cet. 1 (Jakarta: Ghalia Indonesia : 2002), h. 22.

[31] Ibid, hal 22

[32]Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), h. 122.

[33] Ibid h. 122.

[34] Ibid.

[35] Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002),  h. 113.

[36] Moh. Nazir, Metode Penelitian, Cet. IV (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1999), h. 211.

[37] S. Nasution, Metode Research, Edisi 1 (Bandung: Jemmars, 1982), h. 131.           

[38] Imam Suprayogo dan Tobroni, Metodologi Penelitian Sosial-Agama, h. 167.   

[39] Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif  (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002),   h. 86.

[40] Ibid

[41] Ibid

[42] Cik Hasan Bisri dan Eva Rufaida, Model Penelitian Agama dan Dinamika Sosial (Jakarta: Raja Gravindo Persada, 2002), h. 224.

[43] Ibid h. 224.

[44] Matthew B.Miles dan A Michael Huberman, Analisis Data Kualitatif, terj Tjejep Rohendi Rohidi , Jakarta, UI Press , 1992: 16 – 17

[45]  Ibid, hal 18

[46] Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif  (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002),   h. 175.

[47] Ibid, h. 177.

[48] Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, h. 178.

[49] Imam Suprayogo dan Tobroni, Metodologi Penelitian Sosial-Agama, h. 185.

[50] Depag, Sejarah Institut Agama Islam Negeri Tahun 1976 sampai 1980 (Jakarta; Direktorat jendral pembinaan kelembagaan Agama Islam,1986),216

[51] Deddy Mulyana dan Jalaluddin Rahmat, Komunikasi Antartradisi (Bandung, Remaja Rosda Karya :1993) hal 23

 

[52] Alex Sobur, Semiotika Komunikasi (Bandung, Remaja Rosdakarya : 2004) hal. 164

 

[53] Ibid,  hal 164 – 165

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: